Tag Archives: lafal bahasa indonesia

‘Jeruk-Apel’ dalam Pasangan Minimal

23 Aug

Salah satu yang perlu mendapat perhatian khusus oleh orang asing  ketika belajar bahasa Indonesia adalah masalah lafal. Ini kadang kurang disadari oleh baik pengajar maupun murid. Hasilnya, ketika murid sudah mencapai tingkat belajar yang lebih tinggi (madya atau mahir), masih saja, kendala melafalkan sebuah kata dengan benar dan baik masih terjadi.

Salah satu yang paling mungkin muncul adalah adanya pasangan minimal. Pasangan minimal adalah dua buah kata (atau lebih?) yang memiliki bunyi sekilas mirip karena memiliki satu perbedaan fonem saja. Misalnya, /r/ dan /l/, /c/ dan /j/, /k/ dan /g/, /n/ dan /ng/, /d/ dan /t/ dan lain sebagainya. Pasangan minimal sangat penting untuk dipahami karena dapat membedakan makna kata-kata tersebut. Ya, bagaikan jeruk dan apel. Misalnya kata /raba/ dan /laba/ sering diucapkan serupa. Bagi peserta dari Eropa atau yang berbahasa ibu bahasa Inggris, ini terasa mudah. Tapi coba bayangkan pemelajar dari Jepang yang berjuang mati-matian mengucapkannya secara benar. Juga ketika hari ini saya menemukan kesulitan pemelajar dari China yang hampir menyerah ketika mengucapkan /cuci/. Alih-alih mengucapkannya /cuci/, pemelajar itu mengucapkannya /juji/. Bayangkan, bahkan pemelajar dari negara dengan huruf awal c tidak bisa mengucapkan kata yang mengandung huruf itu!

Jadi, persoalan lafal tidak bisa dianggap remeh, apalagi jika sudah menyangkut makna. Pada level yang saya ajar (pemula), memang kesulitannya hanya sebatas pembedaan bunyi. Namun, saya sering menemukan (pada level lebih lanjut) kesalahpahaman makna dari sebuah kata hanya gara-gara murid tak mengucapkan kata itu secara benar.

Guru seharusnya sadar dengan kondisi ini dan menjadi korektor paling tegas bagi mereka. Kesalahan demi kesalahan harus diungkap di level terbawah (pemula) agar tidak berlanjut kelak. Nah, dari pengalaman saya, saya sendiri lebih suka memulai dengan mengajari mereka ‘mendengar secara benar’. Maksudnya, bagaimana mereka ‘ngeh’ dengan pembedaan lafal itu jika mereka sendiri tidak mendengar kata dengan tepat? Jadi, dalam setiap pertemuan, usahakan agar mereka ‘mendengar secara benar’ lebih dahulu ucapan kata itu dari kita, kemudian copy the master (ungkapan dari Pak Ismail Marahamimin Alm.). Sebagai ‘master’, kita juga harus ‘ngeh’ apakah lafal kita sudah tepat. Caranya? Ya, cek KBBI tentu!

Agar menarik dan tak membosankan, perlu permainan! Salah satu permainan yang saya pakai adalah ‘Jeruk dan Apel’. Sebenarnya, namanya bisa saja diganti ‘Nasi Goreng dan Mi Rebus’ atau ‘Tempe dan Tahu’, apa saja.

Langkah yang dilakukan dalam permainan ini adalah sebagai berikut. Berikan instruksi kepada murid tentang permainan ini. Karena ini level pemula, tentu berikan instruksi sesederhana mungkin. Instruksinya adalah, murid akan diperdengarkan kata sesuai fokus bunyi yang dipelajari hari itu, misalnya /r/ dan /l/. Minta murid untuk mengingat, ‘apel’ untuk /l/ dan ‘jeruk’ untuk /r/. Ketika pengajar mengucapkan satu kata yang mengandung bunyi yang dimaksud, murid harus mengucapkan ‘apel’ atau ‘jeruk’. Pengajar mulai mengucapkan lafal satu persatu dan murid harus bisa menerka kata yang dimaksud.

Tujuan permainan ini adalah, peserta mampu menyadari pembedaan bunyi dalam bahasa Indonesia. Latihan ini dapat diberikan untuk semua pasangan minimal. Yang penting, guru harus bisa berperan sebagai korektor dengan baik dan murid dapat bersenang-senang tanpa menyadari bahwa mereka sedang belajar.

Selamat menjadi guru yang baik, rekan guru!