hello, world!

17 Sep

It’s been a looooong time I didn’t make a new post here. Many things had happened in this fucking crazy life and thanks God I still have You!😀

Kabar pertama, tentang diri yang tak kunjung mengecil. Alrayt, saya tak mau bahas lebih lanjut. Hahaha… *buka lemari dan bingung mau dibuang ke mana baju-baju berukuran di bawah L ituuuu*

Kabar yang menggembirakan hanya sekejap, sekejap, lalu lenyap. Lantas semua berganti kesibukan demi kesibukan yang menelan semua kesenangan. Di mana gurau? Di mana canda? Di mana pekik gempita? Semua sirna. Tapi, saya yakin sementara. Sementara. Sebelum Desember datang dan… ups.

 

14 Juni

3 Jul

Ish!

Malu kali saya. Sudah lebih dari dua minggu, hal yang satu itu belum terselesaikan. Buku sudah diunduh, bahkan sebagian sudah dicetak. 

Ide?

Blank.

Maaf ya, yang di Australia sana. 

😦

Bocah Dewasa

24 Jun

Aneh ya, memang. Tapi begitulah. Saya memberikan istilah itu untuk mereka. Tubuh mereka, dewasa. Wajah pun demikian. Tapi tidak semua dari 15 orang di ruangan itu memiliki otak dan jiwa manusia dewasa.

Bayangkan situasinya begini. Ada seorang pria duduk di pojok ruangan. Ruangan itu memang bukan tempat baru. Usianya mungkin 20 tahun. Tapi saya yakin para petugas tak luput membersihkan ruangan itu. Nah, pria ini, masih muda, sekira 25 tahun, mengangkat tangan.

“Permisi, Bu.”
Dia mengarahkan tangannya ke sebuah arah yang saya tak begitu jelas melihatnya….mmm…oh… Ternyata dia menunjuk sarang laba-laba di pojok ruangan itu.

Saya tersenyum. Apakah saya harus membersihkan sarang laba-laba itu di depan dia dan 14 orang lain di dalam ruangan? Belum sempat saya berbicara lebih lanjut untuk meminta dia mwnghubungi petugas kebersihan yang setiap hari ia temui, ia sudah keburu berkata.

“Saya sudah bayar…mahal! Sudah bayar untuk dua bulan…” ujqrnya sambil memasukkan tangannya ke saku celana.

Senyum….dan saya katakan, “Oke. Saya sampaikan ke petugas kebersihan.”

Selesai? Ya, cukup sampai di situ.

Dewasa? Bocah! Usia 25 tahun dan masih tak bisa menghadapi situasi kecil macam itu dan cuma bisa menjadi pengadu.
Bocah itu, masih perlu belajar mengungkapkan isi kepalanya.
Dia masih belum sadar, uang bukanlah alasan dia bisa mempermasalahkan sesuatu.

Gallery

Sesak

22 Jun

Di ponsel saya, baru saja, masuk pesan Watsap di sebuah grup.

“Mana yang lain?”

Seandainya saya bisa menanyakan hal yang sama, Januari tahun lalu. Seandainya saja, ada kalimat penyejuk hati di kala saya menanti esok hari di depan khalayak.

Saya tak kuasa. Munafik kalau saya bilang saya bukan penyimpan dendam. Bukan saya benci, saya tak bisa. Saya berusaha. Sungguh. Tapi tak dapat lepas.

2005.
8 tahun yang lalu.

Saya di hadapkan pada situasi yang sungguh aneh. Masih ingat, kamu? Telunjukmu masih mengarah ke mukaku.

Maaf, tapi saya tak pernah bisa melupakan saat orang yang saya anggap dekat, justru menyalahkan saya di depan umum dan mempermalukan saya. Beritahu saya apa yang salah, akan saya perbaiki. That is a friendship should be.

Hati saya tak pernah lega. Memori itu selalu ada.

Dan, saat saya tak ada di sana, untuk mengucapkan selamat atas pernikahanmu, tentu ada alasan kenapa saya akan bertanya, “kenapa kamu tak ada di sana saat saya berada di tempatmu saat ini?”

Maaf, saya tak lega.
Saya sesak.

Gallery

Terima Saja

15 Feb

Hidup itu memang judulnya adalah memberi dan menerima. Orangtua kita menerima kita dari Tuhan dan kita menerima rahmat hidup dari Tuhan. Kita memberi rezeki kepada orang lain, kita juga memberi pengetahuan kepada orang lain. Kalau gak begitu, ya kaya saya jadinya. Denial. Capek, tau.

Katanya “when life gives you lemon, you make lemonade”. Seasem-asemnya ya lemon peres. Kalau mau hidup jadi manis, ya tambah gula aja.

Di umur segini, hidup saya lagiasem-asemnya. Kecut. Saat ngerasain kecutnya hidup, saya mesti nyari gula. Gulanya ada?  Engga. Jadi?

Sementara in, judulnya “terima saja”.