Imlek 1: Vihara Lamceng yang Ramah

3 Feb

 

Imlek biasanya diwarnai merah. Saya mencari merah di hari ini. Ada satu tempat yang ingin saya kunjungi, sebenarnya, Vihara Dharma Bhakti, Pejagalan. Terakhir saya ke sana, pada sekitar Imlek dan Cap Go Meh, tempat itu seperti yang pernah saya lihat di televisi: dipenuhi pengemis yang entah datang dari mana saja. Seperti setetes madu yang jatuh dari sarang lebah, para pengunjung vihara langsung disemuti pengemis yang sudah sedari pagi berkongsi satu sama lain untuk mencari celah kebaikan hati pengunjung vihara di hari baik ini.

Sayang sekali, saya lupa di mana vihara itu berada. Kunjungan saya tahun lalu ke vihara itu adalah kunjungan dalam rangka wisata. Turis.

Dengan bekal ingatan seadanya, saya cuma bisa menjejakkan kaki kembali ke Vihara Lamceng atau dahulu bernama asli Vihara Ariya Marga. Jam menunjukkan pukul 11.00, waktu yang sangat terlambat jika ingin menyaksikan umat Buddha beribadah di hari baru di tahun baru ini. Saya pun hanya disisakan abu lilin-lilin merah raksasa dan kertas-kertas berwarna kuning yang dimasukkan ke dalam sebuah tungku besar. Suasana sepi ketika saya datang ke sana. Seorang anak kecil bermain bersama ayahnya yang langsung menoleh begitu saya sampai. Ramah dan hangat terasa sungguh.

Beberapa meter dari Sekolah Minggu yang berada di sebelah kanan dalam kompleks vihara itu, ada tiga orang penjaga yang dengan keramahannya menyambut kami. Asap yang membubung sesekali tampak dari luar. Saya ragu-ragu masuk ke vihara itu. Tiga orang warga keturunan Tionghoa mengobrol hangat. Saya hanya memerhatikan sekeliling sesekali. Abu dari dupa yang dibakar masih tersisa.

Tempat ini sepi, tapi kehangatan orang-orang di sekeliling saya sungguh terasa. Betapa umat Buddha yang saya lihat, tak menaruh pandangan apapun terhadap saya, yang berjilbab ini. Mata mereka jujur. Sapa ramah mereka bukan basa-basi. Bahkan, saya disuruhnya masuk lebih jauh ke dalam vihara itu. Ah, seandainya saya mempunyai keberanian untuk bertanya lebih banyak, saya tentu sangat puas. Sayangnya, saya terkukung dalam keraguan dan keciutan nyali saya.

Ah!

Vihara Lamceng (Jl.Perniagaan Timur)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: