Ibu Cirebon dan Gani di Suatu Hari

5 Feb

Tadinya, Rabu lalu saya pulang kampung. Rupanya, Jakarta menahan-nahan saya. Katanya, “Kau masih terikat denganku.” Jakarta berkelakar, rupanya. Baiklah. Saya tantang.

Saya kesiangan juga. Jakarta benar. Baiklah, coba lagi. Saya ambil jalan menuju terminal terdekat, namun saya urungkan. Saya berbalik menuju Stasiun Jatinegara, belum menyentuh Kalibata, saya putus asa. Berbalik kembali ke terminal. Oh, tidak. Saya salah ambil langkah. Bis sudah 1 jam lalu berangkat dan saya punya 5 jam sebelum bis berikutnya berangkat. Baik. Tenangkan diri, kita minum kopi. Kopi teman sejati. Setidaknya, untuk tiga hari ini.

Apapun risikonya, tantangan ini saya lalui. Saya akan menaiki kereta berikutnya, sore sudah sampai di rumah, bisa meneguk teh botol dingin, dan istirahat. Nyatanya, Jakarta mempermainkan saya. Kereta penuh begitu rupa. Dan, saya sedang mogok berdiri di kereta berlama-lama. Saya putus asa.

Gedung di seberang menarik hati saya. “Cekrek”. Tak sadar, kamera sudah di tangan dan dua kali saya tekan. Bagaimana kalau saya maju ke sana, melupakan kekalahan saya pada Jakarta kali ini, membiarkannya tertawa. Saya akan cuek.

Gedung itu rupanya yang dahulu bernama Pasar Batu Aji. Kini, ia berganti rupa. Lebih elok dan modern, dari luar. Saya belum pernah memasukinya sekali pun. Namanya, Jakarta Gems Centre. Lagi, saya mengguman. Apa masalah jika namanya tetap Pasar Batu Aji? Apakah jika namanya diganti–apalagi dengan bahasa Inggris, orang akan lebih banyak pergi ke sana? Oke, saya akan masuk.

Jakarta Gems Centre (Pasar Batu Aji, Rawa Bening)

Memasuki gedung ini, tentu yang saya lihat pertama-tama adalah kios-kios toko emas dan aksesoris imitasi. Saya sendiri tak niat berbelanja, memang. Hanya kebetulan melepas sisa matahari yang menempel di badan. Sejuk. Tak ramai seperti pasar yang lain. Saya mengitari gedung ini, memutar, mencari kalau-kalau ada toko aksesoris dengan harga yang sesuai kocek. Saya sampai di kios kedua sebelum ujung. Kios aksesoris untuk jilbab. Saya memilih beberapa, bertanya harga. Hm, lengkap dan murah.

Peniti bros

aksesoris

 

Setelah memilah dan memilih, saya membeli sebuah peniti bros dan bros lusinan. Harganya, tak masalah. Murah, bagi saya. Tak lama setelah saya membayar, saya kedatangan seorang India yang saya pikir adalah pemilik kios itu. Nyatanya, dia hanya berkata sambil menunjuk orang yang melayani saya, “He’s the boss. Yes, he is.” Kami mengobrol dalam bahasa Inggris. Rupanya, ia senang bertemu dengan saya (jika ia tak bohong tentang itu) yang bisa sedikit bahasa Inggris. Mungkin, selama ini dia kesulitan berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. Akhirnya saya tahu bahwa dia adalah penyuplai barang-barang di gedung ini.

Gani, penyuplai aksesoris dari India

Setelah lumayan lama berada di kios itu, kaki saya gatal, hendak berjalan lagi. Tak hanya kaki, perut juga. Beberapa langkah dari kios yang disuplai oleh Gani, saya melihat seorang ibu makan dengan lahap. Ah, perut saya menendang-nendang. Saya bilang pada perut, “Sabar.”

Saya menyapanya. Dia membalas dengan ramah sekali. Saya, kok merasa dekat ya dengannya. Saya jadi tak segan-segan bertanya lebih banyak. Sebenarnya, hanya ingin duduk barang sebentar. Seorang penjaja jus menawarkan jus dan saya memilih satu, kemudian saya serahkan pada si ibu (yang tak saya tahu namanya).

Kiosnya unik. Saya baru lihat. Katanya, barang-barang yang dijual di kiosnya adalah barang-barang keperluan meditasi seperti menyan dan wangi-wangian. Mata saya tertuju pada tongkat panjang dari plastik bening dengan tempatnya berwarna hitam. Itu wangi-wangian. Lalu, ada banyak kotak di atas. Itu tempat cincin. Kotak itu paling laku di kios ini. Di deretan kiri ada kotak-kotak berwarna putih dengan tulisan arab. Saya tak sempat tanya itu apa. Lalu, di dekatnya ada kotak berwarna kuning. Ada gambar hati tertusuk panah. Ya, ya. Semua sudah paham itu apa, meskipun tulisannya beraksara arab.

Ini adalah...?

Air Mata Duyung

Buhur Suleman, entah untuk apa.

Kalau air mata duyung, setahu saya, khasiatnya sebagai obat pengasihan. Maksudnya, kalau menggunakannya, orang yang kita suka akan tertarik pada kita. Cara pakainya, saya juga belum sempat tanya. Menurut Ibu Cirebon–dia mau disapa begitu–para pembeli di kiosnya adalah para dukun dari berbagai daerah di Indonesia. Jadi, dukun-dukun itu ngulak di sini,  toh? Industri perbatinan agaknya menjanjikan, tawa saya dalam hati. Ibu Chirebon sudah berjualan 27 tahun. Anaknya 17, sisa 12 setelah 5 orang meninggal dunia. Di sini, tinggal satu anak yang belum menikah. Dia banyak cerita soal anaknya itu. Saya tak terlalu tertarik. Kalau dia menjual obat pengasihan, kenapa tak ia pakai untuk anaknya saja? Atau, sudah ia coba lantas tak mumpuni?

Bagi saya, Ibu Chirebon pribadi yang hangat. Ibu Chirebon tak malu berbagi cerita dengan saya. Seperti juga ibu-ibu yang pernah saya temui di pesisir pantai utara, mereka memang sangat mudah akrab dengan orang lain. Bahkan, kadang lebih suka saya sebut “sok tahu dan sok akrab”. Ini keunikan mereka. Tak ada rasa curiga. Tak menaruh prasangka negatif. Ini kekuatan mereka, para ibu di pesisir pantura.

Ibu Cirebon

Baik. Cukup rasanya saya berlama-lama di sini. Saya tidak mau larut dalam perbincangan yang mungkin, membawa saya jauh ke dalam dunia obat-obatan ini. Saya cukup tahu dan saya tak perlu mengetahuinya lebih banyak, karena saya tak percaya.

Perjalanan saya harus diteruskan, menuju rumah. Masih ada 1,5 jam sebelum saya sampai di kasur untuk merebahkan badan dan berterima kasih pada Jakarta. Jakarta menarik saya dan menahan saya karena ia mau mempertemukan saya dengan orang-orang itu, mengetahui apa yang selama ini terlewatkan jika saya singgah di stasiun itu.

Terima kasih, Jakarta. Saya akan menelusurimu lagi lain waktu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: