Menyerah dan Jadilah Bebas!

5 Feb

Menyerah dan jadilah bebas!

Kalimat itu yang terngiang-ngiang di kepala saya begitu selesai membaca buku ini. Apakah saya tercerahkan seperti halnya Buddha? Ya, dalam pemahaman saya yang sangat dangkal.

Semenjak kelahirannya di dunia, Siddharta telah membawa perubahan dalam diri Sudhodana, sang ayahanda yang berwatak keras. Kematian Maya, istri Sudhodana mengakibatkan timbulnya perasaan bersalah pada diri Sudhodana. Ia terus menyalahkan kelahiran Siddharta beberapa hari sebelum akhirnya Maya wafat. Ditambah pula, ramalam para Brahmana atas bayi itu yang menyatakan bahwa sang bayi akan memiliki dua jalan hidupnya, membuat hati Sudhodana gusar. Ia ingin kelak Sidharta mampu menggantikan posisinya sebagai Raja Kapilavastu. Atas saran seorang Brahmana terpercaya, ia mengumpulkan kekuatan agar cita-citanya tercapai. Sidharta dijauhkan dari segala penderitaan rakyat Kapilavastu. Seluruh rakyat miskin dibuangnya ke luar kerajaan, seluruh wilayah istana dikelilingi tembok agar tak bisa terjangkau Siddharta.

Suddhodana belum menyadari juga bahwa sang anak memiliki watak yang berbeda, hingga akhirnya Siddharta beranjak dewasa. Kelak, Suddhodana yang terus menjejali dirinya dengan kekerasan dan kekejaman harus menerima kenyataan pahit: ditinggalkan oleh anaknya.

Perjalanan hidup Siddharta tidaklah mudah. Deepak Chopra–penulis buku ini–tidak menulis keseluruhan kisah hidup Siddharta secara detil, namun mengambil bagian-bagian terpenting yang kelak akan menjadi satu kesatuan dalam usaha penemuan jati diri Siddharta. Kisah cinta Siddharta pada seorang gadis–Sujata, diungkapkan secara indah. Kisah cinta itu akhirnya tidak berakhir bahagia karena hidup Sujata harus berakhir di tangan sepupu Siddharta, Devadatta. Namun, dalam pengembaraannya kelak, Siddharta sering menemukan bayangan gadis itu.

Devadatta, sepupu Siddharta dikisahkan sebagai sosok yang keras, arogan, penuh kebencian pada Siddharta, dan rasa iri yang dipupuknya hingga ia dewasa. Tak ada yang berani melawan sikap keras Devadatta, kecuali Channa, sahabat Siddharta dari kasta yang berbeda. Perbedaan kasta tak menghalangi Channa memelihara rasa bencinya pada Devadatta yang selalu mengganggu Siddharta.

Kecuali konflik-konflik itu, konflik Siddharta dengan dirinya sendiri sudah lebih dulu menarik baginya. Setelah perjumpaannya dengan Asita–seorang Brahmana yang disegani–yang mengajari dirinya tentang mencari makna hidup, batin Siddharta bergejolak. Ditambah, perjalanannya pada suatu hari bersama Channa ke sebuah daerah yang disebut “kota raja” bersama Channa membuat matanya terbuka dan hatinya remuk. Daerah itu lebih mirip sebuah daerah peruntukan bagi para cacat, tua, dan orang berpenyakit. Pada usia 29 tahun, setelah memiliki seorang istri–Yashodara–dan anak–Rahul, Siddharta memulai pencariannya, mencari Buddha.

Perjalanan itu diliputi lika-liku. Pertemuan dengan para petapa lain, meditasi hingga berminggu-minggu, dan pencarian guru, akhirnya berujung pada tapanya yang membawanya melihat  surga dan neraka, membawanya pada sebuah titik yang disebut pencerahan. Inilah tahap hidup Siddharta Gautama yang paling penting, menjadi Buddha.

Deepak Chopra menulis buku ini bagi orang awam yang baru mengenal ajaran Buddha, seperti saya. Dia menulisnya sebagai pengantar pada pemahaman Buddha yang lebih sederhana, berbeda dari ajaran agama yang umumnya rumit dan penuh ritual ibadah.

Buddha (Deepak Chopra, 2009)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: