Zonder Lentera: Kisah Gayus Model Lama

7 Feb

Zaman kian berubah, kecuali manusia. Siapa bilang perilaku Jahiliyah hanya terjadi di Arab? Siapa bilang pula kanibalisme milik suku tertentu? Jelas, semua kembali pada manusia, si pengarah zaman.

Sejatinya, memang perilaku buruk dari pengalaman di masa lampau harus dicerna baik-baik oleh penerus, kaum kita sekarang. Tidakkah kita sering berkeluh kesah tentang sejarah? Ego, adalah sifat sejati manusia. Tak ada hidup jika manusia tak egois. Tak ada penerusan keinginan jika manusia tak punya cita-cita. Namun, sistem sosial dan kesadaran luhur sifat bijak manusia harus lahir sebagai penyeimbang hidup. Jika tak demikian, egoisme kelak menjadi raja atas manusia itu sendiri.

Kwee Tek Hoay agaknya ingin memberi gambaran tentang bahaya memanjakan ego. Tak hanya bagi pemilik ego itu sendiri, pun bagi orang-orang di lingkungannya berada. Mengambil latar daerah Pecinan di Jakarta pada masa awal abad ke-20, dengan para tokoh Belanda sebagai komisaris dan polisi serta warga Tionghoa peranakan, kisah ini dimulai.

Tokoh Tan Co Lat digambarkan sebagai seorang petugas pajak yang ngemplang. Sikap tamak, bengis, dan licik diwakili dalam sosok laki-laki keturunan Tionghoa yang sehari-hari selalu berusaha mengambil keuntungan dengan cara apapun ini. Tak peduli dengan pikiran orang tentangnya. Dia berkuasa untuk menaikkan atau menurunkan pajak seseorang dengan alasan tertentu. Kegemarannya, menikmati jika ada pihak-pihak lain yang memujinya sebagai orang yang mampu mengatasi berbagai masalah. Sebagai seorang petugas, ia memiliki waktu senggang yang ia pilih sendiri, yaitu tidur saat siang hari. Tak ada yang menyukainya, namun tak ada juga yang berani melawannya.

Hidup Tan Co Lat akan berubah setelah kisah dua pemuda ini diperkarakan.

Namanya Willem Tan dan Johan Liem, dua pemuda yang baru saja pulang menonton pertandingan sepakbola. Dua pemuda ini nekat membawa fiets (sepeda) yang tanpa lampu pada malam hari setelah hujan reda. Johan Liem agak takut-takut rupanya. Namun, Willem berani ambil risiko itu. Bertemulah mereka dengan petugas polisi yang sedang beredar. Benar dugaan mereka, polisi itu hendak menilang mereka gara-gara lampu. Panjang akal si Willem. Dikelabuinya si Belanda itu dengan mengaku sebagai Hong Hiang Ciu dan Cu Pek San dari Pacinan yang tinggal di toko obat Gwa Po Tong. Setelah mengelabui si petugas, mereka masih harus berhadapan dengan petugas berikutnya. Kali ini, mereka mengaku sebagai Fu Yong Hai dan He Wan Tja yang tinggal di Restoran Sudi Mampir. Setelah mencatat nama mereka, para petugas itu pun berlalu dan dua pemuda nekat itu lolos.

Tak ada yang terjadi pada dua pemuda itu hingga keesokan harinya. Saat itu, Tan Co Lat harus berurusan dengan komisaris polisi yang seorang Belanda karena diadukan oleh beberapa orang atas beberapa tuduhan. Tan Co Lat memang licik. Wajar jika orang-orang tak menaruh simpati padanya, bahkan justru menunggu-nunggu kejatuhannya. Dia juga terkenal pandai menjilat. Jika ingin orang bersimpati padanya, ia mudah melakukannya dengan beberapa kalimat saja. Seperti kali ini, dia menawarkan obat untuk anak komisaris yang sakit, juga menawarkan makanan di restoran Sudi Mampir yang tersohor. Karuan saja sang komisaris merasa terganggu dengan rayuan ini.  Sesaat setelah itu, Tan Co Lat menerima pesan dari komisaris polisi itu untuk mencari orang-orang bernama Hong Hiang Ciu dan Cu Pek San, serta Fu Yong Hai dan He Wan Tja. Kelucuan pun terjadi. Tan Co Lat tertawa terbahak-bahak membaca nama-nama yang tertera di atas kertas yang diberikan komisaris, sambil  terus saja bergegas menyiapkan barang-barang untuk sang komisaris. Nama-nama yang tertera itu sama dengan obat dan nama makanan yang baru saja ia sebutkan. Hong Hiang Ciu adalah arak obat untuk menyembuhkan luka lebam, sedangkan cu pek san adalah obat masuk angin untuk anak-anak. Dua lainnya adalah makanan China.

Masalah melebar tatkala komisaris menolak menerima pesanan. Dipanggilnya Tan Co Lat untuk dimintai keterangan. Sete lah dijelaskan bahwa nama-nama dalam pesanan sang komisaris adalah nama orang, komisaris bukannya tertawa geli. Ia justru bertambah serius dengan kasus itu. Dipanggilnya pula pemilik restoran dan pemilik toko obat untuk dimintai keterangan. Di balik itu, pemilik restoran  ketakutan dengan panggilan itu. Dikiranya, terjadi sesuatu yang buruk menimpa seseorang karena makanan dari restorannya.

Setelah interogasi yang memakan waktu, pencarian komisaris dan anak buahnya berujung pada ditahannya dua orang yang diduga adalah pelaku pemalsuan identitas atas kasus “fiets zonder lentera” (sepeda tanpa lampu). Diam-diam, dengan akal licik, Tan Co Lat menyuap dua orang itu agar mengaku sebagai pelaku. Dengan begitu, komisaris polisi pasti akan beranggapan dia-lah yang terhebat dalam mengungkapkan kasus ini sehingga ia akan dipercaya oleh komisaris itu. Tan Co Lat licik. Ia tak segan-segan menggunakan akal bulusnya untuk mengelabui orang lain.

Perilaku Tan Co Lat, yang bagaikan onak dalam kehidupan bermasyarakat, tak sulit ditemukan dalam situasi saat ini. Tentu kita tak akan pernah lupa bagaimana cerdiknya Gayus memanfaatkan pekerjaannya untuk “menangkap ikan besar dengan jala”. Kwee Tek Hoay memotret masyarakat sesuai apa yang dilihat. Sejatinya, penulis bersikap seperti itu.

Onak, seperti Tan Co Lat, dipenuhi ego-ego yang berdiri atas dirinya sendiri, berwujud keinginannya yang tak terbatas. Akankah manusia semacam dia, suatu saat nanti menyadari bahwa hidupnya penuh kecaman, tak bebas pujian, tak dirindukan kehadirannya, bahkan mungkin kelahirannya sudah dikutuk sebelum ia dewasa? Kwee Tek Hoay memberikan arahan jelas dalam deskripsinya bahwa perbuatan Tan Co Lat tak layak ditiru, namun tak bisa dilawan dengan perlawanan. Ia harus disadarkan.

Upaya menyadarkan orang yang tersesat dalam egosentris tak mudah. Secara kebetulan, dua pemuda yang merasa bersalah atas ditahannya dua orang setelah kasus “Zonder lentera” itu tak terungkap, pun menyerahkan diri kepada komisaris polisi. Atas keberaniannya mengakui kesalahannya, dua pemuda itu tak jadi ditahan.

Mengenai Tan Co Lat, rupanya komisaris polisi itu tak ingin kecolongan lagi. Atas dugaan pemberian keterangan palsu, ia pun dicopot dari jabatannya. Tentu ia bukan Gayus sang aktor prodeo. Setidaknya, Kwee Tek Hoay sudah memberikan gambaran tentang adanya manusia semacam gayus yang sudah hadir pada awal abad ke-20. Tentu tak hanya di Indonesia. Semoga hanya da satu Gayus di negara ini. Semoga.

Kesastraan Melayu-Tionghoa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: