Bakat Penguntit

10 Feb

Pernahkah kita berada dalam situasi seperti ini.

Duduk dalam angkot di sebelah seseorang tak dikenal yang sedang memegang HP. Tanpa diketahuinya, Anda mengamati HP-nya. Lantas, mengamati pula orangnya yang sedang sibuk. Kemudian, mulai menggeser pandangan Anda kembali ke HP itu yang layarnya berkedip-kedip tanda pesan masuk. Anda juga ikut sibuk mencari tahu ada apa di layar: isinya.

Atau situasi lain lagi.

Anda duduk di depan seseorang yang berusaha bertahan di kereta sambil membaca koran. Anda sibuk membaca headline koran itu. Kemudian, mulai memperhatikan bagian terbaik berita yang ingin Anda ketahui.

Bagaimana dengan yang ini?

Anda merasa dikhianati oleh pacar Anda. Rasanya, si dia mulai berselingkuh dengan seseorang. Anda akan sangat penasaran dan mulai mengorek isi facebook pacar Anda, twitter-nya, atau bahkan bersikap waspada terhadap setiap SMS untuknya.

Juga yang ini.

Anda ingin sekali mengetahui sesuatu mengenai rekan kerja Anda, atau bawahan Anda. Anda tak segan-segan membaca setiap komentar yang diberikan oleh rekan kerja itu di facebook dan twitter. Anda merasa yakin apa yang Anda baca adalah kebenaran dan Anda merasa berhak menjadikannya bukti atas sesuatu. Seketika, penasaran Anda berubah menjadi kegelisahan yang menjadi-jadi. Tatkala sang rekan kerja memutuskan hubungan di jejaring sosial, Anda tak cukup kehilangan akal. Anda meminta teman lain agar bisa “melihat” kegiatan rekan kerja Anda.

Kejadian-kejadian itu tak aneh, sering terjadi di sekitar kita, bahkan kadang kita menjadi pelakunya. Lantas, siapa kita? Siapa yang berhak mengetahui hal-hal pribadi seseorang selain orang itu sendiri? Kita sudah memiliki bakat yang berharga itu: bakat untuk mengintai. Ketika kita sudah mencapai tahap terlalu jauh, bahkan melebihi rasa ingin tahu yang dimiliki si korban, Anda tergolong penguntit.

Sekarang, Anda tinggal memilih untuk menjadikan bakat itu anugrah, atau justru akan berbalik menyerang Anda, menjadikan Anda seorang yang terkekang rasa ingin tahu berlebihan. Anda mungkin tak mengira, setiap penguntit akan hidup di bawah bayang-bayang ketakutan tak beralasan yang jauh lebih berbahaya daripada pembunuhan.

2 Responses to “Bakat Penguntit”

  1. nazarudin February 28, 2011 at 4:58 pm #

    Hmmm…. I would rather choose to appreciate that talent… hehe

    • ikaratri March 1, 2011 at 12:48 pm #

      i thought you wouldn’t have checked my blog, darl.
      so, which one are you?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: