Our New Life is Waiting

4 Mar

Things were going right, dear. That’s what I said to my self. But I couldn’t do it. I kept thinking it wasn’t the thing I really wanted to be.

Beberapa malam ini, kepala saya tak habis dibuat berpikir. Mata saya belum kurang air mata untuk kunikmati menjelang tidur. What kind of family have I had these 25 years? Saya tumbuh sebagai anak tanpa cita-cita. Bahkan, ketika ibu saya bertanya, “Kalau kamu jadi penjual pecel, mau?”, saya jawab, ya. Saya terbiasa pasrah. Bahkan ketika sempat saya tak menemukan nama saya di koran pengumuman ujian universitas, saya pun cuma bisa menangis namun tak bisa membayangkan ke mana saya harus menaruh harapan masa depan saya.

Saya tak biasa berpikir positif. Saya selalu berusaha memikirkan kemungkinan terburuk. Sebab, sekalipun saya pasrah, saya tak bisa menerima sikap “siap” terhadap kemungkinan apapun. Teorinya, jika saya sudah memikirkan hal terburuk, saya akan siap menerima kemungkinan terbaik. Sebaliknya, jika saya lebih dahulu memikirkan kemungkinan terbaik, saya akan sangat terpuruk menerima kekalahan. Bisa saja saya menjadi gila.

Ketika rencana itu dicetuskan 4 tahun yang lalu, saya limbung pada awalnya. Saya menangis di kantin kampus kala itu. Namun, syukurlah saya  segera sadar bahwa ini bukan ujungnya, ini adalah awal yang baik, bagi kami, keluarga ini.

Makin hari, rencana itu kian dekat. Kian nyata. Beberapa hari lagi, kami tak memiliki apa-apa. Saya limbung lagi. Saya kembali menjadi anak kecil yang ambek ketika mainannya direbut teman. Saya tak siap. Saya sungguh tak siap. Saya lebih baik tak memiliki apa-apa ketimbang harus melepaskan apa yang pernah saya punya. Saya merasa sia-sia. Saya gagal menjadi anak. Beribu halilintar berkecamuk di dada saya, sesekali mereda, tak jarang melecut.

Malam lalu, saya bermimpi. Sebuah tangga melingkar tinggi. Menjulang di hadapan saya. Tanpa ujung. Tangga itu menyempit semakin ke atas. Langit-langit di atas saya menghitam, membentuk kelabu dan pekat.

Mungkin saya harusnya menaiki tangga itu untuk tahu apa ujungnya. Saya perlu yakin bahwa ini bukan akhir.  Mungkin Tuhan ada di atas sana, menunggu saya mencari jawabnya. Sebab, Tuhan itu ada di mana-mana, kita yang harus menujunya.

God is Glorius and Merciful.

3 Responses to “Our New Life is Waiting”

  1. Indri Oktaviani April 21, 2011 at 6:42 pm #

    I Like this.

    Ika, saya belum mengucapkan selamat untuk keberanianmu memilih jalur yang menjadi minatmu dan bakatmu. Kamu adalah salah satu orang yang berani melawan arus kemapanan. Dan buktinya semakin menguat sekarang.
    Jadi, selamat ya kawan.Semoga sukses slalu mengiringi setiap langkahmu🙂

    Salam,
    [indri]

    • ikaratri April 22, 2011 at 4:48 pm #

      Hai Indri…:D Sehat di sana?
      Makasih ya.
      Aku tak melawan arus, Indri. Aku cuma berpikiran rada nyeleneh…hehehe…
      Btw, aku mau kasih tahu. Udah dua kali ini, aku mimpiin Indri datang… Ada apa ya?

      • Indri Oktaviani April 28, 2011 at 7:48 pm #

        Syukurlah Saya sehat-sehat saja Ika…
        Smoga dirimu juga sama🙂
        Btw, ttg mimpimu…sebenarnya beberapa waktu yg lalu entah kenapa diriku juga keingetan aja ama dikau…

        Makanya Saya berkunjung lewat mimpimu, hehehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: