Renung Ulang Tahun

24 Apr

Kemarin, ulang tahun saya.

Tak ada perayaan. Tak ada gembira ria. Saya belum tahu apa makna ulang tahun. Saya tak mengenalinya. Sekarang, saya cuma berdiam. Halo, apa yang bisa saya berikan untuk orang lain… tunggu, bukan. Maksud saya, apa yang sudah saya berikan, bahkan untuk diri sendiri? Hari-hari cuma saya isi dengan keluh, saya isi dengan cita-cita kosong, saya gambari dengan khayalan-khayalan saya. Lantas, saya akan jadi apa di umur ini, sudah harus jadi apa sekarang saya ini, sudah harus berapa isi rekening saya, dan sudah layakkah jika saya menikah di umur ini?

Kala termenung, saya melihat gelap. Saya berusaha keras mereka-reka, memaksa otak saya melihat masa depan saya. Lagi, saya hanya ditawari gelap dalam benak. Apa, Tuhan? Apakah ini yang ada dalam masa depan saya? Jika saya berani menerka maksudnya, saya akan menyangka, mungkin Kau tak memberiku waktu lagi untuk tahu masa depan saya apa jadinya. Tapi Tuhan, saya tak berani. Maka, saya tak memaksakan diri untuk membayangkannya lagi.

Sehari sejak ulang tahun saya.

Saya bangun. Hidung saya mampet karena flu sejak kemarin.

Saya masih tergagap. Apa artinya umur? Apa maksudnya kita bertambah usia?

Saya ingat kata Chairil Anwar–mungkin hampir semua orang bosan mendengarnya, “sekali berarti, sudah itu mati.” Saya kembalikan kalimat itu pada diri saya. Ya, mungkin itu maksud-Nya. Hidup itu untuk berarti. Hidup itu bukan sekedar menanti mati. Bukan pula sekedar menepati janji berbaik hati dan beramal budi. Saya akan berarti. Saya harus berarti, kan, Tuhan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: