Gadis Manis Siapa Punya? (Catatan Perjalanan: Garut)

21 May

Garut tak jauh dari Jakarta. Tak perlu repot membawa peta untuk mencapai dan menjelajahi kota itu. Cukup berbekal sinyal HP dan pulsa untuk mengecek blog internet via HP, kita sudah bisa mencapai eskapisme yang kita ingini.

Perjalanan ke Garut memakan waktu 4 jam dari Jakarta dengan bus Primajasa kelas ekonomi AC. Meskipun ekonomi AC, bedanya dengan Eksekutif AC hanya pada jumlah kursi. Ekonomi AC berkursi 2 kiri dan 3 kanan.Ā  Sisanya, rasakan saja sejuknya AC di kepala Anda jika mau. Ongkosnya Rp35.000, bus ini tersedia mulai dari jam 6 pagi sampai jam 9 malam. Baik, perjalanan dimulai.

Membaca blog tentang catatan perjalanan sangat membantu kita memahami rute. Jalanan utama di kota Garut tak terlalu sulit dipahami. Namun, jangan harap Anda bisa bebas berjalan-jalan ke banyak tempat di Garut sebab jarak tempuh menuju tempat-tempat wisata di sana sungguh panjang, kecuali tempat wisata yang saling berdekatan. Bagi saya, perjalanan di sana benar-benar “mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera”.

Candi Cangkuang

Setelah melewati Nagrek, jalan mulai menyempit, tandanya perjalanan akan segera berakhir sekira satu jam lagi. Memasuki Leles, perhatikan sebelah kiri jalan. Tepat di tepi jalan sebelum alun-alun Leles, Anda bisa segera turun dari bus. Begitu turun, Anda disambut tukang ojek atau delman yang siap mengantar Anda menuju Candi Cangkuang. Konon kabarnya, Candi Cangkuang adalah satu-satunya Candi Hindu di tatar Sunda. Saya pribadi lebih suka mengunjungi tempat wisata sejarah, di samping alam ketimbang jenis wisata lain. Setelah beristirahat di sebuah masjid di seberang alun-alun, Anda bisa menawar delman. Cukup bayar Rp15.000–20.000 untuk perjalanan selama 15 menit. Jangan pelit, sebab Anda tak mungkin sering-sering ke sana, bukan? Anggap saja, berbagi rezeki. Kadang, tukang delman menawari Anda berhenti di tepian sawah atau tepat di depan pintu masuk cagar budaya. Saran saya, berhentilah di tepian sawah yang menuju Candi Cangkuang. Selain bisa lebih menikmati alam, sebelum Anda sampai di candi, ‘calo’ rakit akan menawarkan harga selangit untuk menyeberang situ. Jangan mau! Bisa-bisa, Rp20.000–60.000 Anda terbuang percuma. Kalau bisa melewati jalan memutar, pilihlah jangan ragu. Tapi, Anda tetap kudu bayar uang tiket dengan kesadaran Anda, meskipun tidak ada petugas loket ketika Anda tiba di lokasi candi. Tiket masuk cagar budaya ini Rp3000 per orang.

Yeah! Kita lewat jalan memutar lewat pematang sawah saja! Tapi, bilang "permisi" ya jika bertemu petani.

Rakit menuju lokasi candi. Jangan pilih kalau tidak bisa ditawar jadi Rp2000 per orang.

Komplek Rumah Adat Kampung Pulo

Candi Cangkuang

Menuju Pantai Santolo

Siapa nyana, di balik pegunungan yang membentang di Garut, tersembunyi sebuah pantai dengan pasir putih menghampar? Nama pantai itu adalah Pantai Santolo. Lokasinya di arah selatan dari Kota Garut. Anda bisa naik elf jurusan Garut-Pameungpeuk dari terminal. Perjalanan selama 4 jam dari Terminal Guntur bisa ditempuh dengan menggunakan elf dengan ongkos Rp25.000. Jangan heran jika elf ini ber-kenek dua orang. Kadang, sang supir pun bertindak seperti kenek, turun dan mencari penumpang di tengah jalan sebelum benar-benar keluar dari kota Garut. Kadang pula, penumpang tak ubahnya barang yang bisa ditindih dan ditaruh bertumpuk-tumpuk bersama barang atau berpanas-panasan di atas elf. Siap?

Anda tak akan menyesal begitu sampai di Pantai Pameungpeuk. Semua penduduk tahu tempat itu. Begitu turun dari elf, ada ojek yang bisa Anda bayar Rp5000 untuk sampai ke pantainya. Di jalan masuk menuju pantai, Anda akan melihat stasiun peluncuran roket milik LAPAN.

Pantai Santolo sendiri ada di seberang Pantai Pameungpeuk. Karena lokasinya dekat dengan lokasi para nelayan menambatkan perahu mereka, Anda bisa menumpang perahu para nelayan dan membayar Rp2000 per orang untuk sampai di seberang. Pasir putih bersih dan pantai yang sepi pasti membuat Anda bersiap untuk berlama-lama di tempat ini. Jika beruntung, Anda bisa menemukan semacam biawak atau kadal berukuran cukup besar. Yang berbeda di Pantai Santolo dan Pantai Pameungpeuk adalah, di Pantai Santolo Anda bisa menikmati air jernih, dangkal,Ā  dan tenang. Saking jernihnya, Anda bisa melihat berbagai biota laut dan ikan-ikan kecil berenang di antara kaki Anda.

Pantai Pameungpeuk: putih dan sepi!

Pantai Santolo: bening dan asyik!

Itu Kadal? Atau sejenis biawak? Panjangnya setangan orang dewasa, loh.

Perahu Nelayan

Si Manis yang Hampir Terkikis

Jika Anda menyukai pemandangan alam yang aduhai, sebaiknya hindari kota Garut. Kenapa? Sebab, Kota Garut adalah kota yang sepi. Bahkan, ketika Anda datang pada malam hari, Anda tak akan melihat keramaian selayaknya kota tetangga, Bandung. Meskipun begitu, jika Anda mau mencari penginapan murah, Anda bisa mencari di sekitar kota. Banyak penginapan murah meriah di sana dengan harga mulai Rp80.ooo hingga Rp200.000 per malam.

Sepanjang perjalanan menuju Pantai Santolo, Anda akan disuguhi pemandangan alam pegunungan yang menakjubkan! Bentangan panorama kebun teh silih berganti dengan rumah-rumah penduduk dan latar perbukitan. Jangan khawatir, jalanan di sana tak banyak hambatan, mulus dan berkelok.

Berkelok, Kabut, dan Seksi!

Hutan Gelap

Batu Gagah 2

Ihiy! Asiknya!

Kebun Teh

Sayangnya, di antara sejuta keindahan yang saya nikmati sepanjang perjalanan pulang dari Pameungpeuk, hati saya gundah melihat campur tangan manusia pada alam. Ya, bukit-bukit di sekitar jalan itu mulai menggundul seiring dengan merambahnya manusia hingga ke perbukitan. Mereka (manusia) menggunakan bukit sebagai tempat berladang dan bersawah. Bukit pun terlihat memerah, tanda permukaan tanah sudah terkikis, tak lagi hijau.

Gunung Cikuray

Mulai "Botak"

Bukit hampir gundul dan Mawar. Saya berduka.

Garut ibarat gadis manis. Ia tak boleh terjamah. Namun, gadis manis itu kian hari kian tertoreh luka akibat manusia. Saya miris melihatnya. Tak banyak orang yang datang berwisata seperti saya. Tapi, masyarakat membutuhkan lahan untuk hidup dan berhuma. Kita tak bisa berbuat banyak. Mengharap pemerintah bertindak rasanya cukup muluk.Musibah banjir bandang yang menimpa beberapa minggu lalu membuat saya berpikir, apakah mungkin sebabnya karena hutan tak berfungsi lagi sebagai penyerap air?

Keindahan Garut selayaknya tak menjadi komoditas. Keindahan Garut patut dinikmati. Siapa sangka, Charlie Chaplin menggandrungi kota ini dan pernah mengunjunginya dua kali?


3 Responses to “Gadis Manis Siapa Punya? (Catatan Perjalanan: Garut)”

  1. efenerr September 25, 2012 at 12:33 pm #

    wah…menarik sekali..
    nanti kalo mau ke Garut lagi. boleh kontek saya..
    saya ajak ke tempat2 eksotis di Garut.šŸ™‚

    • ikaratri October 9, 2012 at 9:45 am #

      Iya, Garut memang menawan. Gak sia-sia jauh sampai ke Pameungpeuk.

      • efenerr October 9, 2012 at 11:59 am #

        wah..saya baru saja dari Pamengpeuk nih.šŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: