About labelling and stereotyping

22 Jun

Entah kenapa, perjalanan saya ke Sukabumi pada Minggu siang itu sungguh mbikin saya mengelus dada (lagi). Betapa tidak, sungguh, saya muak dengan kalimat yang sama, diucapkan oleh orang berlainan dalam waktu yang berjarak. Ini kalimat yang paling tak kami (sebab tak hanya saya) pahami, kenapa harus ditujukan pada kami–terutama pada pertemuan pertama.

Saya duduk tepat di samping jendela. Seperti banyak wanita (mungkin), jendela menyisakan cerita, membuka citra, dan memberi warna. Itu sebab, kita suka jendela, bukan? Nah, pria ini duduk belakangan, persis setengah jam setelah bis berjalan. Ia memulai percakapan dengan bertanya basa-basi umum, seperti, “Mau ke mana? Ada siapa di sana? Oh, kakak. Kakaknya cewek atau cowok?” bla bla bla.

Dia mulai mengusik soal pribadi saya, seperti umur, status pernikahan, dan lain-lain. Jujur, jika ada sekali lagi laki-laki bertanya seperti itu, saya akan pindah kursi! Berikutnya, bisa ditebak, dia memberikan saran-saran, nasihat, yang entah apa alasannya dia ungkapkan. Bagi saya, itu bagai pemandangan penjaja rokok yang mondar-mandir di hadapan saya.

Nah, di sinilah saya bertambah muak. Dia mulai bertanya asal saya. Dan, senyum sinis entah bermakna apa, dia lemparkan. Kalimat berikutnya, tentu saya sudah hafal betul. Percakapan basi tentang  kota kelahiran saya. Saya tak ingin tersinggung, tapi juga tak mau larut dalam percakapan konyol berikutnya. Maka saya siapkan earphone dan melengoskan kepala ke arah jendela. Pasar Cibinong. Hm, berapa lama lagi saya sampai di Legos?

Ini bukan pengalaman pertama saya dan teman-teman seasal lainnya. Pernah satu kali saya se-lift dengan seorang bapak, tentu dia bukan orang sembarangan. Dia aktif di organisasi dan–katanya–sempat menangani kasus prostitusi di daerah saya. Lalu, mulailah bla bla bla tentang nasihat dan pujian kepada saya, yang, katanya harusnya bersyukur bisa kuliah dan tak ikut-ikutan arus. HELLO? HELL O!

I’m sick of all, people!

Now what, prostitution happens everytime, everywhere. Barangkali prostitusi tak mengenal kata tanya. Bagi saya, apa bedanya kata itu bila melekat dengan kata Jakarta, Puncak, Batam, dan, barangkali, Depok. Apa bedanya? You’re so naive is you said prostitution only happens in my hometown. It’s kind a bullshit for me.

Prostitusi bukan barang baru dalam kehidupan kita, bukan? Ya, saya bahkan tak pernah tahu di mana tempat-tempat yang pernah disebut orang-orang tentang daerah yang terkenal di kampung saya itu. Sungguh. Tapi saya belajar, saya membaca, saya memahami, prostitusi terjadi di–bahkan–Arab, negeri lahirnya Rasul kita. Dan, sekalipun prostitusi ilegal, apakah ada alat pemerintah untuk menyadarkan masyarakat tentang itu? Jadilah, prostitusi menjadi bagian dalam hidup kita. Munafik jika kau cuma tahu prostitusi hanya terjadi di X, atau di Y, hey people, buka mata!

And, what next? Divorce matter? Hey, it’s only about number. Survey dan survey. Angka dan angka. Apa beda? Belajarlah untuk memahami, tak hanya menghakimi, dan memandang dengan mata sinis, atau, membuatnya semacam lelucon. Tak lucu.  And, what else? Early age marriage? Have you all red those National Geography Magazine articles this month? It’s been said, that kind of marriage happens widely and extremely in India and Middle East. Even children under six years old has been a wife. What is on your mind?! Where do you put your brain off? It’s been a huge problems, not mine, but we, people of the world. And everyone should not make any joke about that!

Saya yakin, siapapun, keluarga ataupun korban, tak pernah menginginkan hal ini terjadi. Lantas, kenapa kita, sebagai tak sesiapa, semena-mena berhak menjadikan itu lelucon, atau bahan untuk menyindir, atau bahkan pembuka percakapan dengan orang tak dikenal. Di mana hati nuranimu kalau begitu?

Dan, sejalan dengan isu-isu semacam itu, tak gentar pula orang menempel label terhadap orang lain. Begitu mudahkah melabeli manusia selayaknya melabeli produk supermarket atau toko? People with tiny mind thinks only around their head, not around other people’s head.

Saya, korban pelabelan itu. Siapa berhak melabeli saya? Tuhan saja. Tuhan itu hakim terbaik.

And i’s so so silly that some people are trying to make a relations between the place, the people, and the things had happened, and make wrong conclusion about it. So stupid, people. We cannot conclude that, man from this place are having similarity in characteristic to man from the same place. How can this be true? Kita berbeda dari asal. Bahkan, sekalipun jumlah bulu di tubuh kita sama, kita tetap berbeda. Kita punya hati, kita punya pikiran. Itu yang berbeda. Kalau kau tetap memandang bahwa orang dari suku tertentu adalah sama, apa bedanya kau dengan ayam yang tak bisa membedakan, bahkan, makanan dan kotorannya.

Come on, people. Ini 2011. Berpikirlah sebelum kau berucap. Berpikirlah sekali lagi sebelum mulutmu terbuka, atau jari-jarimu bergerak di antara tuts keyboard. Berpikirlah dengan hatimu, merasalah dengan logikamu. Kita tak pernah tahu apakah ucapan kita membuat orang lain terluka. Kita tak pernah tahu apa yang membuat seseorang benci kepada kita. Dan, kita tak pernah tahu batas umur kita, sekedar untuk meluangkan waktu meminta maaf jika kita ternyata telah tahu tentang itu. Satu yang selalu saya pegang teguh, to forgive is not to forget.

 

2 Responses to “About labelling and stereotyping”

  1. Anonymous August 11, 2011 at 6:47 am #

    setuju tuh, gw juga gak setuju sama pelabelan dan stereotipe. tapi hal itu kan selalu terjadi di dunia kita. cuma di mata Allah aja kita sama🙂 nice thought

  2. ikaratri August 13, 2011 at 3:37 am #

    Tapi, kita gak bisa membiarkan itu selalu terjadi. Paling tidak, kita berusaha menyadari itu dan tak melakukannya ke orang lain. Ya kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: