Yang Berharga

9 Aug

Sampailah saya di rumah ini yang baru ditinggal salah satu penghuninya dua pekan lalu. Begitu turun dari becak, pria paruh baya [entah menyambut-kah namanya] duduk di teras depan. Tangan kanannya mengelus-elus tangan kirinya yang hampir-hampir tak berfungsi dengan baik sejak beberapa bulan lalu. Lalu, perempuan lima tahun lebih muda dari pria itu, menerima uluran tangan saya untuk saya cium.

Rumah ini kini sepi. Anak perempuan termuda sibuk dengan PR dan teman-teman sebayanya. Dan seorang anak tetangga sebelah yang sering membantu jika sang perempuan paruh baya itu kewalahan dengan pekerjaan rumah. Itu pun jika kantong baju sang perempuan itu agak berisi, setidaknya seharga satu paket nasi padang. Jika tak ada, terpaksa ia minta anak tetangga sebelah untuk tak datang.

Sudah sejak sebulan lalu saya tinggalkan rumah ini. Sebulan lalu, tiga kali saya datang dan pergi lagi.
Pada kepulangan saya yang pertama dan kedua, tentu perempuan itu bisa menebaknya: “Ah, dua jam lagi dia dijemput kawannya, lalu nanti malam kawan-kawannya datang ke sini. Kemudian, esok siang atau sore, dia benar-benar akan meninggalkan kota ini lagi.” Dan saya hanya bisa menghela napas.

Kepulangan saya yang terakhir lalu–tepat pada hari duka, sengaja saya sembunyikan dari kawan-kawan saya. Tak sopan rasanya jika keluarga yang sedang berduka ini saya tinggalkan–bahkan hanya beberapa jam saja–untuk bersua kawan-kawan lama.

Kali ini pun, setelah perempuan itu menghidangkan makanan kesukaan saya dan saya melahapnya dengan semangat, saya terpaksa meninggalkannya barang sejam atau dua jam. Lagi, mata sayu perempuan itu meninju muka saya. Oh. Saya terpaksa pergi untuk memastikan kembalinya saya ke kota yang lain.

Saya pasrah. Tiket hanya ada untuk kereta pagi. Saya telepon perempuan itu. Saya katakan keadaan sebenarnya. Dan jawabnya dengan pasti namun menyakitkan, “Memangnya kamu ada di rumah?” Jantung saya berdesir.

Saya tak bisa langsung kembali kepadanya. Saya harus menuntaskan janji pada kawan-kawan lama. Itu berarti hingga habis magrib saya tak ada di rumah. Saya pun berjanji untuk mengajak perempuan itu ke supermarket.

Saya bangun kelewat siang keesokan harinya. Saya ingat sayup-sayup ketika subuh dia sudah bangun dan menyapa saya yang masih setengah sadar, “Mau dimasakin apa? Ampas kecap? Sayur Asem? Rempeyek Udang?” Dan saya tak bisa berkata, hanya bergumam tanda mengiyakan.

Saya langsung membuka laptop, mengecek kabar kawan-kawan yang akan datang siang ini, mengecek hape dan membalas beberapa pesan, membungkus beberapa barang sebagai hadiah.

Klakson motor sudah berbunyi. Seorang kawan sudah menunggu. Setelah minta restu sang perempuan dan pria paruh baya itu, saya bergegas keluar. Saya mendengar sepintas perempuan itu bertanya pada saya, “Jam berapa pulang? Ah, mungkin ashar, magrib. Tak mungkin. Pasti isya.”

Ashar pun berjalan sangat cepat. Magrib, telah berlalu beberapa menit. Saya mulai panik. Gara-gara seorang kawan kehilangan kunci mobil, saya tak bisa menemui sang perempuan secepatnya. Isya berlalu dua jam lalu dan saya sampaikan pada kawan yang menjemput saya untuk lekas bergegas. Dia pun mengiyakan.

Rumah sudah gelap. Tanda tak ada yang masih terjaga malam ini. Setelah mengetuk pintu dua kali, terdengar suara perempuan termuda, “Kunci ada di bawah keset.” Saya tertegun. Sangat tak biasa dengan kunci di bawah keset. Saya biasa dibukakan pintu saja.
Rumah sepi. Semua terlelap. Dan saya menitikkan air mata.

Lalu, saya ingat cerpen yang saya baca beberapa hari yang lalu. Haris Effendi Thahar, “Dari Paris”

Ada seorang anak–dari keluarga miskin–yang sukses di ibukota. Setiap bulan sang anak mengirimkan wesel pada sang ayah. Bulan berganti tahun dan sang anak telah berkeluarga, menetap di Paris sebab sang anak disekolahkan oleh kantornya di sana. Sang ayah sangat rindu sang anak. Sungguh teramat rindu. Ditunggunya telepon dari anak yang masih rajin mengirim wesel tiap bulan itu. Hingga akhirnya tak tahan lagi, diteleponnya sang anak. Tentu, karena sang anak adalah orang yang sibuk, pembantu-lah yang mengangkat teleponnya, memberitahu bahwa sang anak sedang ada di luar rumah. Ketika sang anak menelepon sang ayah setelahnya, nyatalah bahwa sang ayah telah tiada. Dan wesel yang dikirimkan pada sang ayah, tetap utuh tak tersentuh dan berjumlah 21 juta.

Tentu bukan soal wesel. Bukan pula soal kebanggan anaknya berhasil. Yang diinginkan sang ayah bukanlah harta benda. Tapi harta bagi seorang ayah adalah WAKTU: untuk bertemu sang anak, menumpahkan rindu, meringankan beban di pundak yang renta, dan berharap pertemuan dengan sang anak membuatnya “hidup”.

Saya tak ingin menjadi sang anak yang terlambat memberikan Harta Yang Paling Berharga itu kepada orang yang menghidupi saya. Saya tidak ingin mereka bangga karena saya menjadi SIAPA, menjadi APA. Saya menyadari semua itu tidak penting lagi bagi saya. Saya hidup dari WAKTU mereka.

Sekarang saya harus tidur. Ketika mereka bangun pagi ini, saya hanya punya satu jam untuk memeluk, meminta maaf, dan berjanji untuk memberikan mereka Harta Yang Paling Berharga milik saya untuk mereka: WAKTU.

Pria paruh baya dengan sebelah tangan yang melemah dan perempuan yang memikul beban teramat dalam, adalah hidup saya.

KK, Juli 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: