Dear #DiBawahLindunganKa’bah

9 Sep

[1]

Dear Junot,

Ketika pertama kamu muncul di detik kesekian dalam film terbarumu, aku yakin tak seorang pun percaya kamu orangPadangyang lahir tahun 1920-an. Tahu? Wajahmu terlalu kekinian. Kulitmu terlalu bersih, meski (maaf saya belum membaca versi novel film itu) memang ada juga orangPadangyang rajin merawat diri. Tapi, bukankah lebih baik jika kulitmu sedikit warna gelap?  Juga, aktingmu sampai ¾ film belum membuat saya puas. Tapi, menjelang tamat, cukuplah untuk membuat ibu saya mencari-cari tisu dalam tas saking harunya melihatmu menangis di depan Ka’bah sambil terhuyung. Bukan, bukan karenamu ibuku menangis, beliau hanya iri padamu. Katanya, apa benar di depan Ka’bah rasanya sama seperti yang kau rasakan. Tunggu, kau muslim,kan?

[2]

Dear Laudya Cynthia Bella,

Tentu bukan hanya karena wajahmu lumayan mirip dengan … sehingga sutradara / casting crew memilihmu. Kami yakin, kualitas aktingmu bagus. Hm, ternyata lumayan juga. Adeganmu terjebur ke dalam kali kala terburu-buru naik sepeda menuju Hamid di sungai, tak terlalu luar biasa. Lain dengan adegan ketika kau terhuyung-huyung pergi ke laut tempat kau bertemu Hamid dulu, itu juga yang membuat penonton sebelahku menangis. Tapi Bella, saya yakin jika skenario film  ini kau hayati lebih dalam, kau pasti bisa membuat kami—penonton—menaruhmu dalam hati kami sebagai Zainab, gadis kaya dari kampung yang mahir berlogatPadang.

[3]

Dear Katjang Garuda, Gery Chocolatos, dan Baygon

Jika film ini hampir masuk dalam nominasi film terbaik dalam sebuah festival, tentu nominasi itu akan gagal karena satu alasan: kelogisan! Jelas, kalian—para produsen oportunis tak logis—gagal segagalnya membantu film ini berjalan. Apa arti uang kalian jika tak sebanding dengan pencitraan penonton? Tak mungkinlah, di kampung nun jauh dari ibukota pula, ada produk kalian dalam hidangan sehari-hari masyarakat kampung diPadangsedangkan kalian baru hidup di tahun 1990-an. Jika kalian tetap memaksa produk kalian masuk dalam film ini, apa kalian bermaksud membodohi penonton? Maaf maaf saja, kami tak bisa dibodohi begitu saja.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: