Dear Tetangga

9 Sep

Dear tetangga tujuh rumah,

Kalian sebut kami apa? Itu, ketika kami—saya dan adik saya—lewat, kalian sempat berkata-kata tentang… mmm… tentang “orangkota”? Oh iya, saya ingat. Kalian sebut kami “orangkota”. Begitu?

Baik, saya jelaskan.

Saya tinggal di kelurahan dikotakecil. Kelurahan itu adalah Kepandean. Konon, katanya bernama seperti itu karena banyak ‘pandai emas’, kalian tahukan? Itu, orang yang pekerjaannya menyepuh dan melapis emas. Nah, Kelurahan Kepandean itu tak jauh, loh. Letaknya cuma berbeda dua kelurahan dari kampung kita sekarang. Kelurahan? Kampung kita?

Iya, saya menyebut Kepandean sebagai kelurahan karena memang secara administratif, itu adalah kelurahan. Nah, kitakanada di Pekandangan Jaya. Mirip-mirip sih dengan kelurahan, tapi secara administratif—entah atas alasan apa—istilahnya  menjadi ‘desa’. Jadi, Desa Pekandangan Jaya. Apa bedanya? Tak ada,kan? Jadi, siapa yang ‘orangkota’?

Oh, kampung kita? Sejak tinggal di sini empat bulan lalu, ibu saya sudah mengurus surat-surat pindah bahkan kartu keluarga loh. Jadi, kami resmi warga sini. Kalian mau apa dengan istilah ‘kampung kita’?

Dear tetangga yang menyebut kami ‘orang kota’,

Kami bukan orangkota, ketahuilah. Kami kebetulan lama tak menempati rumah kami. Kami bukan tak senang dengan istilah dari kalian. Kami risih. Kami merasa dibedakan. Cukuplah seabrek pembeda di antara kita: bahasa, kebiasaan, logat, dangayaberpakaian. Cukup. Kami tak butuh istilah apapun sebagai identitas kami. Karena kita tinggal di negara yang sama, dikotayang sama, di kampung yang sama, cukuplah jika kalian menyebut kami dengan ‘kita’, ya?

Kami memang tak pandai bahasa setempat. Kami memang tak cakap dengan kebiasaan setempat. Tapi kami paham, jika kita bertatap muka dan tersenyum, cukuplah senyum itu sebagai bahasa dan terimalah, jika bisa, balaslah dengan senyum yang sama. Tegur sapa dan senyum adalah bahasa semua manusia, bukan?

Dear tetangga dari ujung gang hingga samping rumah,

Kami hanya ingin ‘kami’ menjadi ‘kita’. Kami bagian dari kalian. Kami hidup bersama kalian. Terimalah kami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: