Gallery

Ada Nama di Antara Kita

17 Sep

Halo, guru!

Pernah merasa canggung di kelas gara-gara tak mengingat nama murid? Atau, merasa tak senang dengan panggilan murid kepada kita? Atau, canggung karena tak tahu bagaimana harus memanggil murid yang lebih tua?

Nah, ada beberapa tips yang perlu diingat di kelas semacam kelas saya itu.

1. Hargailah Nama Panggilan Murid

Biasanya, murid laki-laki dari Korea  yang sudah bekerja (dari penampilan sudah terlihat, kok) punya nama ‘internasional’. Murid saya bernama Park Sang Won, misalnya, punya nama ‘internasional’ Edga. Juga, perempuan muda dari Korea bernama Kang So Mang minta dipanggil Lusi. Kalau sudah tahu nama panggilan mereka, gunakan nama itu seterusnya supaya mereka merasa dihargai. Tapi, tentu jangan lupakan nama panjang mereka untuk kepentingan nilai.  Ada juga yang maunya dipanggil “Kim”, “Lee”, “Ko”, “Choi”  atau “Park”. Namun, untuk kasus ini, guru harus ingat ciri-ciri mereka karena ada sejuta “Kim” dan “Park” di dunia ini, saudara-saudara…:P. Jadi, guru bisa mengingat (dalam kepala saja), misalnya,  “Kim yang selalu bertopi”. Untuk peserta dari Jepang, Turki, Eropa, Amerika, ini tak terlalu menjadi masalah.

2. Guru Muda vs Murid Lebih Tua

Kesan pertama itu perlu! Yap! Ini penting betul. Kita pasti tak mau murid kita mencap kita sebagai guru muda tak tahu sopan santun, kan? Untuk itu, pertama-tama, tanyakan dahulu nama panggilan apa yang mereka ingin kita ucapkan. Jangan sungkan bertanya apakah mereka mau dipanggil “Ibu” atau “Bapak”, tapi pastinya tak ada yang mau dipanggil “Mbak” atau “Mas” deh…:D. Biasanya, pria Korea dewasa minta dipanggil “Pak” atau “Bu”. Ikuti saja, selama guru merasa nyaman dan panggilan itu memang layak untuk orang itu.  Biasanya hal itu sering terjadi antara guru dan murid ibu-ibu dari Korea. Tapi, kalau dia lebih muda daripada guru namun jabatan di kantornya membuatnya ingin dipanggil “Pak” atau “Bu”, ingatlah bahwa ini kelas Anda dan Anda-lah yang menguasai kelas. Berbeda dengan Korea, peserta dari Jepang rata-rata tidak mempermasalahkan panggilan “Bu” atau “Pak”. Orang Eropa atau Amerika lain lagi. Mereka kurang suka panggilan yang berhubungan dengan status atau jabatan seseorang. Jadi, panggillah mereka dengan nama mereka saja, misalnya murid saya berusia 50 tahunan bernama Collin dan dia minta dipanggil Collin saja.

3. Memperkenalkan Nama Panggilan Kita

Ini yang pertama harus dilakukan guru: memperkenalkan diri. Nama orang Indonesia tidak mudah diucapkan oleh orang asing. Jadi, jangan harap mereka mengingat nama lengkap kita, ingat nama kita saja rasanya sudah cukup. Jika nama Anda, misalnya Nazarudin Tarmizi, yakinlah bahwa nama itu akan langsung menghilang dari ingatan murid setelah kelas selesai. Gunakan nama panggilan Anda yang paling mudah diucapkan. Konsonan /r/ dan /kh/ akan sulit diucapkan. Anda bisa bertoleransi dengan menggunakan penggalan nama Anda yang berbeda dengan nama panggilan. Misalnya, nama Anda Fakhrurizal dan dipanggil oleh teman-teman Anda (orang Indonesia) “Fakhrul”. Lebih baik, gunakan penggalan akhir nama ANda, yaitu Rizal yang lebih mudah diucapkan.

4. Beritahukan Bagaimana Cara Memanggil Guru

Sering dan sangat sering saya mendapat SMS atau dipanggil di kelas oleh murid dengan “Guru!” atau “Dosen Ika”. Terasa janggal kan? Apa pasal? Kita tak biasa memanggil orang lain dengan status pekerjaan kita. Di kelas perdana, mulailah panggil diri Anda sendiri dengan “Bu” atau “Pak”. Kemudian, berikanlah contoh kapan kedua panggilan itu digunakan. Setelah mereka memahami kedua kata itu, mintalah mereka menyebutkan salah satu kata itu terlebih dahulu ketika mengetik SMS atau memanggil Anda di luar kelas. Ini dilakukan agar mereka tak serta-merta menulis SMS begini, “Besok ikut makan siang bersama?” atau “Guru, saya ada di kantor”. Latih dan tegurlah mereka terus jika ini masih terjadi hingga akhirnya mereka bisa menulis “Bu, besok bisa ikut makan siang bersama?” atau “Bu, saya ada di kantor”. Bagi pembelajar dari Korea atau Jepang, ini agak sulit diubah karena budaya mereka mengajarkan untuk memanggil guru dengan “Seonsengnim” atau “Sensei” yang berarti ‘guru’.

5. Kaitkan Nama dengan Arti

Yang paling menarik perhatian ketika pertama berkenalan adalah memberitahu arti nama Anda atau alasan orangtua memberikan nama itu kepada Anda. Percaya deh, reaksi mereka ketika saya beritahu nama saya berarti ‘bintang’ dari Bahasa Jawa adalah kalimat panjang, “Ohhh….” sambil terkagum-kagum (ini harapan saya. hahaha…). Dan, mereka langsung tertawa ketika saya minta mereka jangan mengingat arti nama panggilan saya dalam bahasa Jepang karena artinya ‘cumi-cumi’.

Jadi, guru itu digugu dan ditiru. Tubian yang intens dan koreksi yang konsisten akan membuat murid peka akan hal yang benar. Kalau sudah begitu, kesalahan-kesalahan kecil yang lama-lama membesar dapat kita tanggulangi.

Semangat ya, guru!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: