Menghadapi Murid [1]: Murid Menulis di Papan Tulis

19 Sep

Halo guru! Senin yang ragu-ragu tapi tidak untuk semangatmu, kan?

Ada kalanya, murid meminta murid untuk mengerjakan soal di papan tulis, entah Tata Bahasa, Menulis, atau apapun jenis mata ajarnya. Nah, kali ini saya mau berbagi cerita tentang murid saya–orang Korea.

Murid saya ini mungkin termasuk murid yang kepintarannya rata-rata. Saya rasa, dia sudah pernah belajar bahasa Indonesia secara mandiri sebelumnya. Walhasil, beberapa kata sudah dia kuasai sebelum teman-temannya tahu kata itu. Gara-gara ini, kelas kurang berjalan sesuai rencana saya. Misalnya, ketika saya mengajarkan kosakata waktu (bulan, tanggal, tahun), dia selalu menjawab pertanyaan saya yang seharusnya dijawab oleh teman yang lain.

Di sini, peran guru harus tegas. Guru harus tahu batas antara dia dan muridnya. Seorang guru harus tahu bahwa tanggung jawab dia bukanlah menangani satu murid itu, tetapi memberikan perhatian kepada 13 murid yang lain di kelas. Jadi, masalah si murid itu hendaknya dibawa ke luar kelas. Maksudnya, guru perlu menegur halus tindakan murid itu sebatas memberi tahu hal yang perlu dilakukan oleh murid itu, bukan memberi tahu hal yang tidak boleh dilakukannya.

Kali ini, dia tiba-tiba mengajukan pertanyaan. Dia tidak mengajukannya secara lisan. Saya rasa dia merasa dia cukup ‘menguasai’ saya di kelas sehingga saya pun ‘dilangkahi’-nya. Ketika itu, dia tiba-tiba berdiri dan menjelaskan pertanyaannya di papan tulis. Cukup lama hingga saya mengerti inti pertanyaannya. Saya sih, sebenarnya sudah tahu arah pertanyaannya ke mana, hanya saja, dia menjelaskan dengan kalimat panjang dan berbelit-belit.

Di sini, guru harus tegas. Tentukan batas yang Anda ingin gariskan. Untuk murid seperti ini, sebaiknya hindari menggunakan kata “jangan” kepadanya. Anda bisa mengambil sikap diam, tetap fokus, namun tetap memperhatikannya. Hindari pula ekspresi tersenyum yang menandakan Anda bersiap menyerangnya. Hindari pula senyum sinis tanda tak suka. Biarkan saja dia menyelesaikan pertanyaannya dan yang perlu Anda lakukan terakhir adalah mengatakan dengan nada serius dan tegas, “Duduk!” tapi dengan volume rendah.

Nah, dengan begitu, murid yang lain akan sadar bahwa tindakan Anda itu adalah teguran. Jika murid itu masih melakukan hal yang sama, bicarakan di luar kelas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: