Kenapa Harus Bintang?

23 Sep

Hari ini saya disadarkan pada satu kenyataan: saya harus bertanya pada orangtua saya, mengapa mereka menamai saya ‘bintang’.

Saya tak pernah protes, kita tak pernah protes, mengapa nama kita berarti sesuatu yang mereka inginkan, bukan yang kita inginkan. Kenyataanya, kita terbuai.  Sejak kecil saya tertarik dengan arti nama, hingga saya dibuai oleh pemahaman semacam itu. Bahwa nama adalah doa. Nama adalah harapan. Nama juga adalah semangat bagi orangtua kita agar mereka bisa selalu hidup untuk kita.

Ketika kesadaran itu datang, saya harus bersusah payah menahan airmata, menahan seberapa berat menanggung beban yang bukan beban jika saya sudah sadar sejak dulu. Nama saya terlalu angkuh jika saya menuruti pemahaman saya. Nama saya sungguh tinggi jika saya bergantung pada konsepnya. Nama saya ada di langit, jauh di sana, dan seketika itu juga saya jatuh. Jatuh sebab yang saya lihat di langit bukanlah nama saya, saja. Bukan hanya nama saya ada di sana. Bukan saya saja. Ada banyak, ratusan, kata orang bahkan, jutaan nama saya di atas sana. Ada banyak orang sejajar dengan saya, bahkan jauh di atas saya.

Dan ketika kesadaran itu menggelayuti pundak, saya harus membuka mata lebar-lebar agar bisa saya lihat berapa banyak bintang yang lain. Saya harus membuka lapang dada saya agar saya siap menerima kenyataan bahwa bintang tak bisa selayaknya matahari, tak tergantikan. Saya buka tangan saya seluas-luasnya untuk setiap tetes  airmata yang jatuh. Saya buka hati saya, saya buka semua, sebab bintang hanyalah satu dari jutaan lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: