Lelucon yang Tak Lagi Lucu

24 Sep

Saya suka bercanda, apapun macamnya. Tak perlu teori untuk tahu bahwa bercanda adalah salah satu bentuk komunikasi yang paling efektif. Saya tak pandai menciptakan lelucon untuk bercanda. Namun, saya adalah penikmat sejati lelucon yang saya anggap lucu. Tak jarang, kita tak perlu terlibat dalam sebuah lelucon untuk bisa tertawa. Cukup mendengar saja, itu nikmat rasanya.

Di kantor saya, kami—para pengajar—sering bercanda mengenai apa saja, salah satunya tingkah unik mahasiswa. Kami bisa terpingkal-pingkal dengan lelucon ‘menirukan logat salah satu biksu Thailand’. Kami juga tak jarang mengeluarkan lelucon ampuh semacam tentang ras, agama, dan golongan. Ampuh di sini adalah, sangat efektif menghasilkan tawa spontan. Juga, kami tak segan bercanda dengan hal-hal tabu. Saya sih, tak masalah jika tak ada yang tersinggung.

Ada satu orang yang kami panggil “Abang”. Dengan badannya yang gempal, dia sangat menarik dan menyita perhatian kami belakangan ini. Dia dikenal sebagai sosok yang super supel. Tak ada yang tak suka dia—menurut saya. Bagi kami, dia juga sumber referensi terpercaya soal baju, makanan enak, atau pengetahuan umum.

Mungkin, karena kami nyaman bersama dia, setiap kami jalan selalu berakhir dengan kesan. Di perjalanan pulang, biasanya terlempar lelucon, “Ini jalan terakhir kita, ya.” Kalimat itu dilempar oleh Abang. Dan, kami selalu tertawa mengingat dia selalu gagal mewujudkan kalimat itu. Sebab, kami akhirnya pun masih bisa jalan bersama lagi dan lagi. Itulah Abang, tak ada yang tak tahu bahwa dia suka tertawa. Abang, Si Emon.

Pernah terpetik rumor kalau dia divonis diabetes dan didiagnosis oleh dokter bahwa umurnya tak lama lagi. Tentu saja rumor itu kami ulang-ulang dan hanya menjadi lelucon karena dia mengucapkan kalimat itu sejak 3 tahun lalu dan, tak pernah terbukti, tuh. Semua itu berubah—bagi saya, dalam beberapa hari belakangan ini. Sudah dua minggu Abang tak mengajar. Kabar yang beredar, dia kena serangan jantung dan harus bedrest. Beliau tak mau dijenguk siapapun, mungkin untuk menjaga kondisinya. Beliau juga tak mau disumbang sepeserpun oleh teman-teman kantornya—meskipun kami akhirnya tak pernah tega untuk tak membantunya. Pagi ini, saya membuka Facebook dan membaca status Abang. Katanya, kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya. Katanya pula, kerusakan pada jantung dan paru-parunya sudah melebar ke lever dan ginjalnya bocor. Namun, dia masih berusaha untuk bisa beraktivitas setelah dua minggu beristirahat total.

Seketika air mata saya turun satu-satu. Duh, Gusti.

Kita tentu—mungkin—tak lupa ketika infotainment di Global TV begitu seenaknya memojokkan Saiful Jamil yang kala itu sedang berduka dengan menunjukkan rekaman ketika Saiful Jamil berpura-pura menangis di depan istrinya yang sedang berbaring untuk diperiksa kandungannya. Saiful Jamil tentu hanya bergurau. Siapa yang siap jika kejadian itu kemudian berubah nyata, meski kita pernah terbersit untuk membayangkannya?

Saya pun tak siap, meski saya tahu Bapak sudah sakit setahun lebih. Saya tak pernah siap ketika ayah saya sudah mengeluh setengah badannya tak bisa bergerak. Semua tahu ada kata “kemungkinan terburuk” untuk mengganti kata “kematian”. Dan, kita sudah tahu. Tapi, pernahkah kita siap untuk sebuah kehilangan?

Tapi, kita harus siap. Sebab, kematian tak pernah bisa bergurau dengan kita. Dia sadis, dapat menyayat hati kita setiap saat, menguras air mata, dapat menyelinap begitu halus hingga melenakan kita dan kita menjadi alpa, bahwa kematian itu ada, kematian itu nyata, kematian itu dekat. Tapi, kita harus siap. Bercanda tentang kematian bukanlah cara menyiapkan diri. Berhenti bergurau tentang kematian, adalah cara menjauhkan kita dari rasa bersalah. Sebab ketika semua telah terjadi, lelucon itu tak pernah menjadi lucu lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: