Seronok

28 Sep

“Jangan percaya kamus!”

Itu kalimat yang saya katakan kepada murid ketika di kelas mereka menggunakan kata yang kurang sesuai dengan makna dalam bahasa Indonesia standar. Setiap murid saya haruskan membawa kamus, tapi saya tak minta mereka percaya pada kamus mentah-mentah.

Murid dari Korea–yang berasal dari Hankuk University of Foreign Studies–biasanya menggunakan kamus yang diterbitkan oleh universitas mereka. Murid dari Jepang, sebagian menggunakan kamus dari Goro Taniguchi atau kamus saku berwarna merah, juga kamus berukuran buku tulis yang diperbanyak secara mandiri.

Di beberapa kamus, memang tak semuanya memiliki lema sebanyak KBBI kita. Paling tidak, mereka memiliki pegangan agar mereka tak ‘salah jalan’ dalam berbahasa. Tidak hanya satu, sangat banyak dan sering kami–guru-guru di BIPA UI–menemukan kasus unik dan lucu mengenai makna kata. Ada perbedaan makna antara satu kamus dengan yang lainnya, bahkan sangat jauh berbeda. Selidik punya selidik, beberapa kamus di atas dibuat oleh sarjana bahasa Indonesia dan Malaysia (di salah satu universitas, dua bahasa diajarkan dalam satu program studi). Dan, oleh karenanya, dua bahasa itu dianggap sama dan dapat saling menggantikan.

Memang, saya rasa juga demikian pada awalnya. Tapi, pernahkah kita harus berkali-kali meminta seorang Malaysia mengulang kalimatnya karena kita kurang paham maksudnya? Jika ya, kenapa ada anggapan dua bahasa itu serupa? Meskipun kita bertetangga dengan mereka, kita juga punya bahasa. Dan, kedua bahasa yang lahir dari satu bahasa itu, Melayu, telah beranak-pinak, telah tumbuh dan terpengaruh berbagai faktor.

Seiring waktu, kosakata yang pernah digunakan dalam kesusastraan Melayu klasik lambat laun memudar, tergantikan oleh serangan bahasa Jawa. Ibu Dwi Puspitorini–peneliti bahasa Jawa, dalam sebuah pelatihan untuk pengajar-pengajar BIPA, menyatakan bahwa kini sebagian besar kosakata bahasa Indonesia diserap dari bahasa Jawa. Jika ini terus berlanjut, sejarah yang menyatakan bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu akan dikaji ulang.

Kembali ke soal kamus tadi, saya mengatakan kalimat yang saya kutip di atas setiap saya menemukan kejanggalan dari temuan kosakata di kamus oleh murid saya di kelas. Saya suka mereka bereksperimen dalam berbahasa dan tugas saya adalah mengarahkan eksperimen itu agar tertib dan baik.

Maka suatu hari, ketika ada kejadian semacam itu, saya minta mereka untuk tidak percaya kamus. Saya minta mereka membuka kamus dan menemukan kata seronok. Hasilnya, tepat seperti dugaan saya. Makna yang mereka dapat adalah  ‘senang, suka’.

Lantas saya coba membuka kitab suci bahasa kita, KBBI, dan hasilnya:

se·ro·nok a menyenangkan hati; sedap dilihat (didengar dsb): dl dunia keronggengan ini suara pesinden itu sama-sama — dan menarik hati;
me·nye·ro·nok·kan v menimbulkan rasa seronok;
ke·se·ro·nok·an n perihal (yg bersifat) seronok

Kini, cobalah Anda mencari dengan mesin pencari Google. Adakah satu rujukan dari Google yang mengarahkan kita pada makna yang dirujuk dalam KBBI? Adakah satu dari gambar di Google yang tidak menampilkan gambar perempuan berbaju terbuka?

Masalah kesimpangsiuran bahasa ini adalah masalah besar. Contoh kata seronok hanya kerikil di antara jutaan kerikil lainnya dalam bahasa Indonesia. Ada begitu banyak kasus perbedaan makna yang kini bukan lagi menyangkut perbedaan dua bahasa, tapi pada pengguna bahasa Indonesia itu sendiri. Berapa banyak orang yang didalamnya tertanam makna kata seronok sebagai tercantum di KBBI dibandingkan pengguna kata seronok sebagai kata yang merujuk pada ‘perbuatan asusila’? 

Di sini, diperlukan peran kita sebagai pengguna, linguis, pengajar, dan pengamat bahasa. Masalah bahasa Indonesia kini bukan masalah benar atau salah dalam berbahasa, tapi kewajaran dalam menggunakannya di masyarakat. Kita harus terbuka dalam menyikapi setiap kasus, sebab bahasa Indonesia itu ibarat kepala bayi yang baru lahir, sangat rentan oleh pengaruh luar. Jika memaksakan diri untuk tunduk pada kitab suci, tak aneh jika kita akan menjadi asing di antara orang Indonesia lainnya, terutama jika mengajarkannya kepada orang asing. Jadi, ketegasan itu perlu dalam berbahasa, tapi semakin arif dalam menyikapi perbedaan seperti di atas akan membuat bahasa Indonesia semakin kaya.

Semangat, guru!

 

 

2 Responses to “Seronok”

  1. udin September 28, 2011 at 3:12 am #

    Bahasa Indonesia…. hmmm… mungkinkah bahasa ini bisa dibilang prematur?

  2. ikaratri September 28, 2011 at 3:09 pm #

    Iya, masih terlalu dini untuk bisa menyebutnya ‘bahasa Indonesia’, ya. Bahasa yang masih berkembang, lebih cocok ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: