If Everyone Cared

22 Oct

And as we lie beneath the stars

We realize how small we are

If they could love like you and me

Imagine what the world could be

 

Kini ketakutan saya kembali muncul. Bukan tentang diri saya atau apapun  yang  berkaitan dengan diri saya. Ini tentang kita sebagai manusia. Ketakutan yang seharusnya muncul kapanpun itu terjadi sebab kita masih dan akan selamanya menjadi manusia.

Apa yang paling kita takutkan dalam hubungan kita dengan manusia lain, selain kehilangan hati nurani?

Sudah berapa lama kita biarkan televisi yang kita tonton setiap hari, media online dan  cetak yang tiap saat kita baca, menampilkan tayangan-tayangan dan berita yang seharusnya tak jadi santapan kita sehari-hari? Sudah berapa lama kita biarkan pikiran kita beradu dengan sisi manusiawi kita, antara akal dan hati nurani? Sudah berapa lama pula kita biarkan berita-berita kriminal, tontonan kejahatan berbagai model, dan berita tak layak konsumsi menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari?

Saya jengah. Sekali pernah, televisi masih menyala hingga saya hampir bangun di pagi hari dan sayup-sayup dengan setengah terbangun, yang saya dengar adalah suara penyiar berita yang berkata, “…ditemukan sesosok mayat perempuan tanpa tangan dan kaki… bla bla bla…” Oh Tuhan! Inikah wajah manusiawi-nya kita?

Dan, setelah itu, saya menyerahkan diri pada serial Spongebob agar ketika pagi dan saya terbangun, saya akan mendengarkan ocehan spons kuning yang sudah saya hafal betul. Tak apa, asal tak saya dengar ocehan penyiar membawakan berita pembunuhan atau penyiar acara infotainmen berbasa-basi tentang goyangan seorang penyanyi dangdut yang baru menghebohkan dunia hiburan.

Dan, pernahkah juga mereka (siapapun itu) membayangkan ketika hati nurani kita diserang habis oleh rasa duka, rasa ngeri, dan ketakutan yang terus-menerus, maka ia akan perlahan memudar, lantas menghilang? Pernahkah mereka sadar, semakin sering kita menonton tayangan kriminal dan kekerasan, daya tahan kita akan iba kelak menipis? Dan, tiba saatnya hati nurani kita lenyap dan berganti dengan kewajaran. Kita akan menganggap semua kejadian mengerikan adalah hal yang biasa, terjadi setiap hari, dan terjadi pada setiap orang.

Itu semua menjadi nyata ketika Yahoo menampilkan berita seorang anak di China yang ditabrak lari dan beberapa saat dibiarkan oleh orang yang lalu lalang.

Astaga! Dunia macam apa yang kita tinggali sekarang? Ke mana hati nurani itu pergi? Dapatkah kita menariknya kembali, membuatnya semakin tebal dan tetap bertahan di dalam diri kita?

Andai si bocah adalah anak kita, bisakah kita menatap orang yang membiarkannya terlindas?  Andai si bocah adalah sepupu kita,  bisakah kita hanya memandangnya sesaat lantas berlalu? Andai si bocah adalah anak tetangga kita, akankah kita biarkan ia di sana hingga ibunya menemukannya tak bernyawa? Si bocah manusia juga selayaknya kita. Haruskah kita biarkan satu nyawa meregang sementara yang lain sibuk memikirkan berapa biaya yang harus ia tanggung jika anak itu hidup sebagai cacat?

Dan, haruskah kita biarkan hati nurani kita melakukan itu semua? Jangan! Kembalikan hati nurani kita, kembalikan riwayat kita sebagai manusia, yang mementingkan nyawa di atas segalanya.

Matikan televisi yang menayangkan kriminalitas sebagai mata uang mereka, tak perlu baca berita kekerasan yang terus-menerus, dan berhentilah berpikir bahwa itu semua adalah kewajaran. Kekerasan, kriminalitas, dan hal tak senonoh itu bukan kewajaran dan tak layak konsumsi. Kita punya hati nurani.

 

If everyone cared and nobody cried, and if everyone loved and nobody lies

If everyone shared and swallowed the pride, and then we’d see the day when nobody died

Singing, “Amen… I’m alive.”

(Nickelback, If Everyone Cared)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: