Mengapa Penutur Asing Perlu Belajar Bahasa Indonesia Informal?

11 Nov

Bagi pembelajar bahasa Indonesia yang memulai pelajarannya dengan bahasa formal, belajar menggunakan bahasa informal menjadi pelajaran yang susah-susah gampang. Susahnya, ketika mereka mulai diperkenalkan dengan satu persatu unsur-unsur dalam bahasa informal, serta-merta semua pelajaran tentang tata bahasa yang sangat terstruktur akan terdistraksi. Gampangnya, mereka dengan mudah menemukan situasi pemakaian bahasa informal daripada bahasa formal (jika mereka adalah pribadi yang senang bergaul). Saya kira, kedua ragam bahasa itu perlu dan mutlak diajarkan kepada pembelajar bahasa Indonesia itu. Ada beberapa alasan mengapa mereka perlu dan sebaiknya (harus) menggunakannya dalam percakapan mereka sehari-hari.

Intonasi dalam bahasa Indonesia formal bersifat monoton

Bayangkan sebuah situasi dengan dialog semacam ini:

X      : Bagaimana rasa kue yang saya buat? Kamu mau mencobanya?

Y       : Karena kamu yang membuatnya, rasanya pasti enak. Boleh saya coba?

X      : Ya, pasti enak jika saya yang membuat. Silakan.

Apa yang Anda rasakan? Tentu, dialog itu akan menjadi sangat monoton sekalipun strukturnya berterima dalam bahasa informal. Namun, tanpa memvariasikan intonasi, rasanya kita seperti mendengarkan percakapan antara dua penyiar TVRI di dalam studio sambil menunggu jeda, bukan?

Bahasa formal tak mencakup ekspresi di luar bahasa

Seperti dialog di atas, kita akan merasakan adanya kekosongan dalam komunikasi. Kita seolah-olah hanya menjadi pendengar pasif dari percakapan itu tanpa mampu membayangkan dua orang itu memiliki hubungan personal yang dekat. Kosakata fatis yang sering digunakan dalam bahasa informal dapat melengkapi kesenjangan ini. Emosi (ragu-ragu, marah/kesal, senang, rasa penasaran, heran, terkejut, bangga) tidak terpenuhi hanya dengan struktur gramatikal yang tepat. Penguatan emosi baru dapat muncul ketika fatis digunakan. Kini kita coba mengubah dialog itu menjadi semacam ini:

X      : Gimana kuenya? Mau coba engga?

Y       : Enak dong! Kan kamu yang buat. Aku cobain deh!

X      : Iyalah, pasti enak. Cobain aja!

Ekspresi yang digunakan oleh Y dengan fatis dong menunjukkan bahwa Y ingin ‘menunjukkan rasa senang dan bangganya, juga kepastian rasa terhadap kue buatan X. Dia juga ingin ‘menegaskan’ dengan kan bahwa rasa itu muncul karena X yang membuat. Y juga menunjukkan (dengan deh) bahwa dia sangat ingin mencoba kue yang dibuat X itu.

Respon X atas pernyataan Y dengan iyalah menunjukkan bahwa dia sangat yakin dengan pernyataan Y.

Situasi penggunaan bahasa informal lebih luas daripada bahasa formal

Seberapa seringkah penutur asing itu berkomunikasi dengan orang Indonesia dalam bahasa Indonesia? Sebagian besar kegiatan kita berfokus pada kegiatan yang sifatnya akrab. Bahasa formal sangat terbatas penggunaannya, misalnya di kelas ketika kuliah atau di kantor ketika rapat penting. Di luar itu, kita akan lebih sering bercakap-cakap dalam suasana yang akrab, bukan? Kita sangat menghindari bentuk-bentuk kalimat dengan struktur lengkap untuk mengurangi kekakuan dan membuat komunikasi menjadi lebih efektif dan efisien.

Bahasa informal mendekatkan individu dengan individu yang lain

Bahasa yang lebih mudah berkembang adalah bahasa informal atau bahasa sehari-hari. Salah satu fungsi utama bahasa informal adalah sebagai penanda keakraban antarindividu. Semakin informal bahasa yang digunakan seseorang, semakin tinggi derajat keakraban mereka. Sebaliknya, semakin formal bahasa yang digunakan, semakin jauh kesenjangan hubungan antarindividu itu. Seorang dosen akan menggunakan bahasa formal kepada mahasiswanya sekalipun mahasiswa berusaha mati-matian mengakrabkan diri dengan pemakaian kosakata informal. Sebab, dosen berada di posisi lebih tinggi daripada mahasiswa dan akan selalu begitu selama kelas berlangsung. Di luar itu, seorang dosen dapat berada di posisi yang sama di luar kelas bersama mahasiswanya. Seorang tukang becak akan merasa segan jika ditanya dalam bahasa formal oleh seorang pejabat yang kebetulan lewat. Sebaliknya, seorang tukang becak akan dengan ramah menjawab pertanyaan yang diajukan dalam bahasa sehari-hari  oleh ibu-ibu yang akan pergi ke pasar.

Saya rasa, pengajar bahasa Indonesia untuk penutur asing perlu mengajarkan bahasa Indonesia informal, baik secara formal di kelas maupun di luar kelas agar mereka tak menjadi ‘asing’ karena menggunakan bahasa Indonesia yang baik namun tidak benar. Meskipun demikian, kemampuan murid di awal pembelajaran sebelum bahasa informal diajarkan harus terus diasah. Jika tak hati-hati, bahasa informal dapat menjadi bumerang bagi diri mereka sendiri karena menganggap bahasa informal ‘merusak’ bahasa yang sudah dipelajari.

2 Responses to “Mengapa Penutur Asing Perlu Belajar Bahasa Indonesia Informal?”

  1. tesasukahijau December 5, 2012 at 3:40 pm #

    Terima kasih sekali🙂 saya sedang melakukan penelitian pengembangan bahan ajar BIPA. dengan adanya pandangan dari Anda, saya jadi terbantu. Terima kasih🙂

  2. ikaratri December 11, 2012 at 10:50 am #

    Wah, penelitian tentang apa? JIka saya dapat membantu, saya akan senang sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: