Peristiwa di Siang Idul Fitri

11 Nov

“Kelak, kita akan dimintai tanggung jawab tentang mengurus anak yatim.”

Isi khutbah Ied Fitri pagi itu terus terngiang di telinga saya.

Namanya Ijma. Saya tak tahu persis nama lengkapnya. Saya juga tak pernah peduli dari mana asalnya, keluarganya, sekolahnya, kenapa ibu saya sering memintanya datang ke rumah saya. Umurnya belasan, dari raut muka cukup untuk anak seusia SMP. Tapi, kata ibu saya, dia masih kelas 6 SD.

Saya juga tak pernah ingat persisnya sejak kapan dia sering datang ke sini bersama Idris, adiknya. Yang saya tahu, tiap kali ia datang, ia akan mulai mengambil sapu dan membersihkan rumah dan halaman. Ia juga sering diminta tolong ke warung untuk membeli sesuatu. Maklum, di rumah, hanya ada ibu dan adik bungsu saya sejak 4 orang anak—termasuk saya—merantau ke ibukota.

Ijma berkulit hitam. Dengan gaya rambut Charly—vokalis ST12, dia memang penggemar berat band itu. Saya juga tak pernah peduli. Kala dia mengajak saya mengobrol tentang konser band itu, atau sekedar obrol-obrol tak perlu, saya hanya sekedar menyahutinya, seolah-olah saya peduli.

Ketakpedulian dan ketakacuhan saya akhirnya melunak ketika saya tahu bahwa Ijma adalah anak yatim piatu. Namun, apapun latar belakang keluarganya, saya dan ibu saya selalu yakin bahwa setiap anak yatim adalah tanggung jawab kita. Ya, bagi saya, bertanggung jawab tak harus menghidupi mereka sepenuhnya, tapi paling tidak menjauhinya dari pengaruh buruk lingkungan. Juga, membimbing mereka agar tak sesat arah, dan  hilang kendali.

Setiap bertemu Ijma, saya menyelipkan beberapa lembar uang untuk membeli makanan. Sikapnya yang ramah dan selalu mau mengerjakan apapun di rumah saya, membuat ibu saya selalu memintanya untuk kembali ke rumah keesokan harinya dan mengerjakan pekerjaan rumah. Apapun, ia akan kerjakan. Membeli sesuatu di warung, atau membersihkan rumah. Apa saja ia lakukan.

Hingga rumah kami pindah, ia tetap ikut bersama kami. Ia datang diantar kakaknya,  sesampai di rumah kami, ia langsung menimba air di sumur. Maklum, rumah kami yang kini kami tempati belum dipasangi air.

Dan, kami juga selalu menyisipkan uang jajan untuknya setiap kali ia selesai mengerjakan tugasnya pada siang hari. Saya mulai bersimpati padanya. Berkat dia, ibu saya tidak terlalu terbebani dengan tugas-tugas berat di rumah.

Hingga hari itu tiba.

Setelah bersilaturahmi ke tetangga, kami pun kelelahan siang itu. Ibu saya sudah tidur di kamar. Adik-adik saya pun terlelap. Sambil menunggu sore, saya menonton televisi.

Saat itu, terdengar pintu diketuk. Seseorang bertamu ke rumah kami. Katanya, dia teman adik saya. Saya sendiri tak terlalu tahu siapa laki-laki yang datang ini. Setelah saya bangunkan adik saya, saya baru tahu kalau laki-laki ini teman SD adik saya dan tinggal tak jauh dari rumah saya yang lama.

Ketika tamu itu masih ada di kamar, saya dengar suara Ijma di luar. Rupanya, dia datang bersama laki-laki itu yang bernama Ono.

Ijma. Saya menarik napas ketika dia masuk ke ruang tamu. Wajahnya sumringah. Saya meminta dia untuk mengupas sebutir kelapa di belakang. Dengan golok, dia memukulkannya ke kelapa itu. Dan, saya segera tahu dari bau napasnya bahwa siang itu, di hari raya Idul Fitri, dia mabuk. Saya marah. Marah bukan kepalang. Saya pernah mendengar dia sering minum minuman keras, tapi saya tak pernah percaya. Sudah banyak tetangga di rumah lama kami memberitahu kami soal ini. Ijma sudah kami anggap saudara, adik keenam saya. Mana mungkin ia berani?

Tak mau membangunkan ibu, saya berkata pelan dengan tegas padanya, “Pulang. Cepat pergi dari sini. Jangan pernah kembali ke rumah ini lagi.”

Namun, sambil cengengesan, ia tetap di situ. Setelah bertatapan beberapa detik, mata saya pun akhirnya seolah mengusirnya pergi dan ia berjalan terhuyung-huyung ke arah sepedanya. Sambil tertawa. Dia tak bisa mengendalikan sepedanya dan akhirnya dia tuntun sepeda itu. Dia berhenti sesaat, menoleh sambil tersenyum. Dan saya tetap berkata, “Pergi!”

Ibu saya bangun dan segera menyadari situasi itu. Saya katakan padanya, saya mengusirnya. Ibu tak marah. Kami diam. Saya sampaikan isi khutbah Idul Fitri pagi tadi pada ibu. Ibu mengangguk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: