Gallery

Kenapa Tak Mau Jujur Saja (Sih)?

18 Nov

Minggu lalu, saya memberikan tugas kepada murid. Dari segi isi, saya rasa tidak ada masalah dengan semua tugas yang masuk ke loker saya itu. Namun, saya langsung kecewa berat ketika membaca hasil tulisan mereka. Ternyata, mereka, murid-murid saya yang adalah orang dewasa itu, belum bisa bersikap jujur.

Ketika saya mengajar di tingkat pemula, saya juga sering menemukan kasus semacam itu. Setelah menegur mereka, mereka pun segera malu dan berubah. Namun, saya memaklumi sikap tidak jujur mereka itu akibat rasa syok yang mereka rasakan di sini. Belajar sebuah bahasa baru, di negara yang baru, dan berbagai faktor lain di sekeliling mereka, pasti jadi hal yang sulit. Tapi, jika pelakunya adalah peserta tingkat lanjut yang sudah berada di Indonesia selama kurang lebih 10 bulan, saya geleng-geleng kepala saja.

Beruntung sekali, setiap kali tugas, saya tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk mengetik. Saya selalu meminta mereka untuk menulis. Jadi, saya bisa tahu mana tulisan asli mereka, tulisan orang lain, ide asli mereka, atau ide orang lain.

Kalau melihat tulisan ini, bisa langsung terbaca, kan?

Dari gambar di atas, bisa ‘terbaca’ kan, mana tulisan asli mereka dan mana tulisan orang INDONESIA. Kita tak perlu alat khusus kok untuk mengetahuinya. Kalau sudah begini, mereka mau mengelak apa lagi? Tulisan ini ada di dalam satu kertas tugas, loh.

Pengajar tahu, kok, tulisan khas negara masing-masing murid!

Ini perlu diingat oleh murid yang ingin ‘cepat selesai’ dalam mengerjakan tugas! Pengajar bukan orang bodoh. Kami tahu mana tulisan orang Korea, Jepang, Amerika, Amerika Latin, Eropa, bahkan Turki. Ingat, tulisan dari negara tertentu adalah khas. Silakan Anda kumpulkan tulisan teman Anda dari berbagai negara, maka Anda tahu, ada tipe tertentu dalam tulisan-tulisan itu.

Meminta orang lain menuliskan untuk Anda? Tidak cerdas!

Pengajar tahu, kok, seberapa mampu Anda!

Tidak perlu aneh jika pengajar langsung memberikan nilai E pada tugas murid, padahal semua jawaban mereka tepat. Saya sudah sangat sering mengalami kejadian semacam ini. Pengajar tentu tahu jika mereka tidak (MUNGKIN) bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Bagaimana mungkin seorang murid yang selama di kelas selalu ‘tak nyambung’, bisa menjawab pertanyaan di PR dengan lugas dan tepat? Ini tentu jadi catatan untuk pengajar.

Pengajar sudah punya segudang pengalaman!

Pengajar tidak mungkin tidak tahu jenis-jenis murid. Pengalaman mengajarkan segalanya, bukan? Pengajar yang berpengalaman akan segera mendeteksi tulisan yang tidak asli. Jangan pernah berpikir, kami tidak tahu. Pengajar bisa tahu. Tapi, Tuhan lebih tahu… hehehe…😀

Betapapun sulitnya materi pelajaran, kalau kita mengerjakannya dengan jujur dan hati yang tulus, hasilnya pasti baik. Meminta orang lain mengerjakan pekerjaan kita, sama dengan membiarkan diri kita menjadi bodoh karena ilmu kita tak kita gunakan. Belajar itu tidak sulit kok, asal kita MAU.

Seorang murid yang melakukan hal yang tidak jujur seperti itu berarti sedang membodohi gurunya, tidak menghormati gurunya sama sekali, dan tidak menghormati ilmu yang sedang dipelajari.

Daripada melalukan hal yang tidak jujur, kami lebih suka jika murid bertanya dan jujur saja tentang hal yang murid rasa kurang. Bertanyalah, maka pengajar akan menjawab murid dengan senang hati. Dengan bertanya, pengajar akan tahu bahwa murid bersemangat dan punya motivasi dalam belajar. Kalau sudah begini, pengajar akan tahu kekurangan murid dan akan memperbaikinya! Enak, kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: