Gallery

Berapa Harga Nyawa di Depok?

14 Dec

Sudah cukup kesabaran yang kami pupuk sekian lama kepada Pemerintah Kota Depok. Butuh waktu yang sangat lama, sepertinya, untuk membuat Pemkot Depok menghargai nyawa manusia. Setiap hari, setiap pagi atau sore hari, dalam pacuan waktu, berapa orang harus menyiapkan nyawanya untuk dipertahankan atau diserahkan secara paksa di Jalan Margonda?

Ini bukan kejadian pertama kali yang menimpa mahasiswa kami, pemelajar-pemelajar asing dari berbagai negara, terutama Korea. Kami belum lupa beberapa tahun lalu, seorang mahasiswa Korea yang sedang menyeberang Jalan Margonda menuju kampus UI, tertabrak motor dan berujung pada kematiannya.

Begitu pula dengan kejadian yang menimpa seorang ibu dari Korea yang juga hendak menuju kampus UI. Dia ditabrak oleh seorang pengendara motor ketika menyeberang dari depan Margonda Residence. Ketika beberapa hari kemudian beliau sudah dapat kembali beraktivitas, beliau menceritakan kronologis kejadian itu. Saya agak geram ketika mendengar ceritanya. Pada saat kejadian itu terjadi, polisi membiarkan begitu saja si pelaku penabrakan dan memintanya untuk pulang. Tentu saya tak mengharapkan si pelaku membayar ganti rugi atas pengobatan si ibu yang ternyata setelah dilakukan rontgen, ada kerusakan di tulangnya. Saya hanya berharap ada beban psikologis yang harus ditanggung si pelaku atas hal yang dilakukannya, sengaja atau tidak. Kini, si ibu yang sudah tanggung belajar di tingkat akhir BIPA harus menyelesaikan studi sebelum selesai dan pulang ke negaranya karena dia harus mendapat perawatan yang lebih intensif.

Tadi pagi kami kembali dikejutkan oleh kabar: seorang mahasiswa kami, ditabrak oleh pengendara sepeda motor tepat di depan Margonda Residence ketika akan menyeberang menuju kampus UI. Ini hari terakhir ujian dan ia terpaksa tidak dapat mengikuti ujian dan otomatis nilainya kosong. Setelah dirontgen, ternyata beberapa tulangnya patah dan harus dioperasi tiga hari lagi. Ia bukan orang yang cukup mampu untuk membayar biaya operasi sebesar Rp20 juta! Si pelaku sebenarnya mau bertanggung jawab, tapi melihat latar belakangnya, tentu si pelaku juga tak sanggup jika harus menutup biaya sebesar itu.

Harus ada yang disadarkan dengan hal ini: pemerintah kota Depok. Saya sudah tinggal di Depok selama 8 tahun, setiap hari harus menyeberang jalan Margonda, baik menuju UI melalui Jalan Sawo atau Jalan Pepaya, atau dari Margo City ke Detos, atau apapun. Setiap pagi, saya harus menunggu beberapa orang lain untuk menyeberang bersama-sama. Jika tidak, nyawa saya taruhannya. Siapa sih, yang siap dengan kematian?

Kota ini memang tidak menghargai nyawa manusia. Dipikirnya, dengan melebarkan badan jalan hingga menggusur halte di sepanjang Jalan Margonda akan membuat kemacetan berkurang. Dan, masalah selesai. Lantas, apa hak pejalan kaki? Buatlah pembelaan apapun terhadap berbagai masalah hak pengguna jalan, niscaya akan terpental semua itu.

Lihat saja, spanduk bertuliskan “Menyeberanglah di Jembatan Penyeberangan” yang dibuat oleh pihak kepolisian. Seingat saya (koreksi jika salah), di sepanjang jalan ‘maut’ ini, HANYA ada dua jembatan penyeberangan: di depan Margo City dan di depan terminal. Haruskah naik angkot menuju dua jembatan itu jika saya berada di Gang Kober dan bekerja di UI?

Membuat zebracross? Siapa yang tahan dengan kelakuan pengguna sepeda motor atau mobil yang selalu tak pernah mau mengalah bahkan ketika kami berjalan di jalan yang menjadi hak kami itu? Kami HANYA butuh kurang dari 5 detik untuk menyeberang! Lima detik tak akan mengurangi hidup atau rezeki Anda.

Menugaskan beberapa polantas di pagi hari? Ada beberapa polantas yang membantu penyeberang jalan sekira pukul 07.30—08.00. Selepas itu, di mana mereka? Entah. Kami masyarakat mandiri, Bung! Mengandalkan polisi tentu menyia-nyiakan harapan yang kami punyai.

Dan, sekarang apa? Membuat lampu lalu lintas di depan Gang Kober? Setelah korban-korban berjatuhan? Butuh satu windu untuk berpikir tentang, “Aha! Lampu merah itu ide yang bagus!”? Konyol sekali.

Kota ini tak menghargai nyawa manusia. Dipikirnya, nyawa manusia bisa dibeli di mana saja. Dipikirnya, kami semua rajin berlatih kungfu sehingga bisa menghindar dari senggolan kendaraan bermesin dengan kecepatan tak terduga? Dipikirnya, kota ini hanya kumpulan apartemen dan mal, tanpa manusia pejalan kaki? Selama Pemkot Depok memikirkan masalah ini dari dalam MOBIL dinas mereka, mereka tak akan, tak akan pernah mengerti kami, pejalan kaki. Ah, masih untung jika mereka ada waktu untuk berpikir tentang ini.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: