Gallery

to learn, not to study

11 Jul

Bahasa Inggris memiliki dua kata untuk belajar: learn dan study. Maknanya serupa, tapi tentu tak sama. Study merujuk pada kegiatan mempelajari bahasa sebagai sebuah objek. Sementara, dibandingkan dengan study, learn memiliki arti yang lebih mendalam. Tak hanya memandang bahasa sebagai objek, learn meliputi juga aspek di luar faktor bahasa, seperti aspek sosial budaya masyarakat penutur jati. Seseorang dengan kemampuan intelijen luar biasa (mungkin) akan mampu menguasai sebuah bahasa dengan sangat baik, namun hal itu bisa jadi tidak sebanding dengan kemampuannya menghadapi persoalan budaya (cultural gap) dengan penutur jati.

Penutur jati bahasa Indonesia selayaknya penutur bahasa-bahasa lain di dunia, memiliki ukuran—yang tentu saja—tak terlihat secara fisik, untuk menilai kenyamanan orang lain melalui tindak tuturnya. Sopan santun. Betapapun fasih dan mahirnya seorang berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, dengan tindak tutur yang tidak mengandung unsur sopan santun, mudah dibayangkan, akan apa jadinya jika penutur asing mencoba berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang dimiliki. Ketika, misalnya, seorang yang tidak kita kenal dekat, ingin meminta tolong kepada kita untuk membuka jendela di ruangan yang panas dan ia berkata dengan intonasi datar (baginya), “Saya mau jendela itu dibuka.” Secara naluriah, ada semacam rasa tidak nyaman dalam diri kita yang menyebabkan kita secara tidak sadar merasa enggan untuk melakukannya (meskipun akhirnya kita lakukan juga). Ini bukan tentang persoalan instruksi berupa imperatif yang digunakan itu tidak kita pahami. Ini adalah masalah kemampuan individu untuk menerjemahkan instruksi yang ingin disampaikan ke dalam bahasa lain. Penutur asing itu nyatanya tidak memiliki kemampuan untuk memahami bahwa dalam sebuah tuturan, ada faktor-faktor lain yang jauh, jauh lebih penting dari sekedar urutan kata yang disusun dengan sangat baik.

Faktor utama berkomunikasi adalah penutur diharuskan menyadari (bukan hanya tahu) bahwa dia berbicara dengan orang lain, bukan kepada dirinya sendiri. Penutur asing dewasa yang berpengalaman luas, apalagi bekerja di luar negerinya sekian lama, tentu seharusnya bisa memahami bahwa dia bukan anak kecil yang selalu harus diturut keinginannya. Kalimat di atas mengindikasikan bahwa si penutur asing tidak mampu dan tidak mau mengerti kondisi orang lain. Fokus tuturan adalah penutur asing itu sendiri. Akibatnya, orang yang dituju dalam kalimat itu merasa enggan sebab kalimat itu menyiratkan ada posisi yang berbeda antara penutur asing dengan penutur jati. Jika saya, sebagai pribadi, mendapat instruksi seperti itu, saya merasa bahwa orang tersebut menganggap saya sebagai bawahan atau office boy, yang dapat disuruh kapan pun, tanpa peduli apa yang sedang saya lakukan di pantry dengan setumpuk cucian piring.

Masalah komunikasi tak hanya terjadi dalam ragam lisan, tetapi juga dalam ragam tulis sehari-hari. Sebutlah, SMS. Menulis SMS panjang dengan tanda seru kepada seorang pengajar yang isinya pemberitahuan, tentu menyiratkan adanya ketidakmampuan penutur asing tersebut secara total dalam berkomunikasi. Kita tentu membaca sebuah tanda seru (!) sebagai ujaran seru. Maknanya selalu tergantung konteks.

“Saya senang!” akan terdengar berbeda dengan

“Saya bukan mahasiswa, saya pegawai kantor! Nilai tidak penting!”

Ada nada tertentu yang diciptakan melalui sebuah tanda kecil yang mungkin sangat sepele. Saya rasa, dalam bahasa asing lain, ada keseragaman konsep mengenai tanda seru. Saya sendiri secara pribadi, membaca tanda seru yang dilekatkan bukan pada kalimat ekspresi emosi (senang, suka, dll.) sebagai ekspresi penegasan yang kuat, atau emosi yang cenderung marah. Ini tentu kembali menimbulkan benturan budaya antarbangsa. Jika kalimat di atas ditujukan pada saya, saya akan merasa sangat tersinggung karena kalimat itu menimbulkan rasa tidak nyaman dalam diri saya, membuat saya merasa dihantam benda keras. Itu, jika. Kalau benar, mungkin.

Persoalannya tentu saja kembali pada penilaian. Adakah rumus yang dapat menilai seberapa mampu seorang penutur asing menggunakan bahasa lain dalam berkomunikasi sehari-hari dengan penutur jati? Selama ini, pengajaran komunikasi lisan terbatas pada pencapaian (achievement) peserta dalam menggunakan bentuk-bentuk bahasa yang diberikan, belum menyentuh pada cara berjalannya komunikasi sesuai budaya masyarakat setempat. Dan, peserta yang sangat ambisius hanya dapat menilai dirinya sendiri dengan angka (yang didapat dari kuliah) saja. Peserta yang ambisius dengan nilai akan selalu ingin melihat posisinya dalam tingkat kemahiran saja. Namun, perlu diingat bahwa mahir tidak berbanding lurus dengan terampil.  Peserta yang terampil menggunakan bahasa, meskipun tidak mahir, akan lebih sangat dihargai oleh penutur jati dibandingkan peserta yang hanya mengukur diri dengan penggaris angka.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: