Cerita Mike

11 Jan

Via watssap, saya dimintai tolong oleh mantan murid tutorial saya, orang Kanada. Sebut aja, Mike. Dia ingin saya membantu menerjemahkan secara lisan. Kasusnya adalah, Mike tiba-tiba harus ditransfer kembali ke Kanada. Padahal, seharusnya masih ada setahun lagi masa kerja si Mike di sini (Jakarta). Ada beberapa kontrak hingga tahun depan yang harus diputus, misalnya apartemen (yang sudah dibayar hingga tahun depan) dan supir pribadinya. Untuk itu, dia harus menyelesaikan urusannya dengan supirnya sebelum dia pulang. Karena supirnya bukan supir kantor, dia terpaksa ‘memberhentikan’ si supir secara pribadi juga.

Mendengar cerita dari Mike, Mike sendiri sudah berusaha berbuat sebaik-baiknya dengan supirnya itu (sebut aja Pak Yanto). Tak hanya meminjamkan uang, dia pun membelikan anak Yanto laptop, membayari motor anak lelakinya, dan lain-lain.

Saya dan Mike pun bertemu di Citos. Ternyata, ia datang bersama pacarnya, Arlene. Sepertinya sih, Arlene sebal sama si Mike karena menurut Arlene, Mike terlampau berbaik hati sama orang lain. Saya pun pikir demikian. Tapi, nasi sudah jadi bubur, bukan? Apa mau dikata, utang tetap utang.

Mike sebenarnya gak terlalu peduli dengan jumlah utangnya. Jumlah utang? Berapa coba uang yang dipinjam sama si supir?

Ehm…

50 juta.

Ya, pantas saja kalau Arlene sebegitu emosinya ingin si supir membayarnya segera. Untung saja, utangnya tersisa separo.

Kepala saya pening rasanya. Membayangkan si supir yang terpaksa harus segera mencari pekerjaan lain secepatnya. Membayangkan dia harus membayar pula utangnya. Dan membayangkan si supir mendengar kantor Mike memintanya untuk kembali ke Kanada. Semua dalam satu waktu, dalam dua jam pertemuan saya, Mike, Arlene, dan si supir.

Saya saja tak menyangka, si supir yang bertubuh kekar, dengan kalung besi dan tampang garang, sebegitu lemahnya. Saya tahu dia sedih, kecewa, dan sungguh terkejut dengan semua hal ini. Saya tahu mereka (Mike dan supir) berhubungan sangat dekat, bahkan keluarga si supir pun sudah mengenal Mike.

Saya cuma takut, si supir khilaf atau gelap mata. Berhenti dari pekerjaan, memikirkan cara mengumpulkan uang untuk membayar utang, dan tetap harus menafkahi keluarga.

Beruntung bukan saya. Beruntung bukan saya yang berhutang, pun kepada orang asing. Saya belajar benar dari kasus ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: