Diary

12 Feb

Diary. Saya cuma pernah punya diary waktu saya masih SMP. Itu pun benar-benar spesial. Kenapa? Pertama, isinya sangat pribadi. Ada beberapa tentang cinta pertama, ada juga tentang cita-cita masa depan, meski gak semua saya ingat. Kedua, bukunya, bagi saya looks impressive. Saya masih ingat tekstur sampul bukunya yang empuk, dengan  kertas yang tidak licin. Nah, yang terakhir adalah satu yang paling istimewa: saya menulisnya dengan aksara jawa hanacaraka.😀

Ya, alasannya sih simpel, namanya juga rumah dengan empat anak perempuan, selalu perlu sedikit ruang lah untuk privasi. Cuma di buku diary itulah saya bisa dapatkan privasi itu meski akhirnya beberapa tahun kemudian kebongkar juga.😦

Tapi, sejak itu, saya gagal nulis diary. Niatnya beli buku untuk dijadikan diary, baru 10 halaman, saya berhenti.

Nah, kemarin siang, manakala saya buka loker, ada empat lembar kertas looseleaf. Rupanya, dari murid saya. Jumat lalu sih, saya sudah dimintai tolong olehnya untuk jadi semacam ‘penyelia’ buku diary-nya. Asik juga. Baca buku diary orang lain, tapi mesti mengoreksi kekurangan tata bahasa dan ejannya.

Dia cowok, loh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: