Bocah Dewasa

24 Jun

Aneh ya, memang. Tapi begitulah. Saya memberikan istilah itu untuk mereka. Tubuh mereka, dewasa. Wajah pun demikian. Tapi tidak semua dari 15 orang di ruangan itu memiliki otak dan jiwa manusia dewasa.

Bayangkan situasinya begini. Ada seorang pria duduk di pojok ruangan. Ruangan itu memang bukan tempat baru. Usianya mungkin 20 tahun. Tapi saya yakin para petugas tak luput membersihkan ruangan itu. Nah, pria ini, masih muda, sekira 25 tahun, mengangkat tangan.

“Permisi, Bu.”
Dia mengarahkan tangannya ke sebuah arah yang saya tak begitu jelas melihatnya….mmm…oh… Ternyata dia menunjuk sarang laba-laba di pojok ruangan itu.

Saya tersenyum. Apakah saya harus membersihkan sarang laba-laba itu di depan dia dan 14 orang lain di dalam ruangan? Belum sempat saya berbicara lebih lanjut untuk meminta dia mwnghubungi petugas kebersihan yang setiap hari ia temui, ia sudah keburu berkata.

“Saya sudah bayar…mahal! Sudah bayar untuk dua bulan…” ujqrnya sambil memasukkan tangannya ke saku celana.

Senyum….dan saya katakan, “Oke. Saya sampaikan ke petugas kebersihan.”

Selesai? Ya, cukup sampai di situ.

Dewasa? Bocah! Usia 25 tahun dan masih tak bisa menghadapi situasi kecil macam itu dan cuma bisa menjadi pengadu.
Bocah itu, masih perlu belajar mengungkapkan isi kepalanya.
Dia masih belum sadar, uang bukanlah alasan dia bisa mempermasalahkan sesuatu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: